Novel SANG KOMBATAN karya Murdani alias Musa AM.

Ini adalah novel kedua yang kuanggap lebih jujur pada keadaan Aceh tentang zaman perang 1976-2005, setelah dulu pada 2009 muncul novel TEUNTRA ATOM.

Dalam hukum kepenulisan fiksi, setahuku, setiap buku yang telah disebutkan sebagai sebuah novel, maka itu sama sekali tidak bisa lagi disebutkan di dalamnya ada fakta kehidupan orang atau peristiwa. Itu aturannya.

Akan tetapi, para peneliti, termasuk peneliti sejarah, diyakini akan menggunakan sebait puisi –bukan saja novel– sebagai bahan perbandingan penelitiannya — bahkan yang lebih parah lagi– akan menggunakan novel sebagai sebagai rujukannya.

Oleh karena itu, dengan kedua pertentangan yang aneh dan lucu tersebut, maka, ada hal yang membuat kita harus mengantuk-antukkan kepala ke dinding adalah.

Hal itu adalah:

Pertama, para pengamat sastra dan penulisnya membantah bahwa cerita di novel adalah berasal dari kisah nyata.

Kedua, akan tetapi, yang gilanya, para sejarawan menganggap novel itu ditulis berdasarkan fakta yang dialami oleh manusia yang hidup di zaman yang dituliskan di dalamnya.

Sekali lagi, jangan mengantuk-antukkan kepalamu ke dinding dengan ketimpangan itu. Sekali lagi, sejarawan mengaggap novel adalah buku sejarah dan pengamat sasrtra dan sastrawan menganggap novel hanyalah karangan.

Aku sendiri, sebagai penulis novel, dan juga penyuka sejarah, masih bingung dengan hal itu. Sebenarnya, pihak manakah yang mengarang-ngarang? Sekali lagi, jangan antukkan kepalamu ke dinding![]