Mungkin kata “khawatir” sekar dari kata “khathara”, lintasan pikiran/perasaan, yang disempitkan menjadi lintasan yang negatif, cemas dan was was.
Kita selalu khawatir akan hal yang belum kita ketahui atau perihal yang berkaitan dengan keselamatan dan kenyamanan diri. Dari khawatir ini akan meningkat menjadi takut. Beberapa studi populer menengarai bahwa rasa khawatir itu cenderung berdampak buruk, bila berlebih ia hanya melemahkan mental dan bahkan memunculkan penyakit fisik.
Tak ada larangan untuk khawatir. Tapi kita dilarang bersangka buruk dan berputus asa. Jadi, khawatir yang terlintas itu bisa kita alihkan untuk hal yang kontruktif. Minimal kita memohon perlindungan, beristighfar sembari mencari solusi yang tepat.
Diantara kekhawatiran yang rendah adalah mengkhawatirkan tentang tampilan fisik kita dan persepsi orang lain akannya: Khawatir menjadi tua, khawatir tampak jelek atau khawatir mengenai kesehatannya. Meskipun demikian kita tetap merawat fisik dan keperluannya sedapat mungkin secara normal/alamiah.
Adapun kekhawatiran yang sering menghantui adalah, rasa khawatir tentang kecukupan sandang, papan dan pangan kita. Termasuk di dalamnya pendidikan, kesehatan dan situasi sosial. Kekhawatiran ini tidak hanya berasal dari diri sendiri semata, tapi juga terikat dengan sistem sosial.
Tingkat kekhawatiran ini memang perlu diwaspadai, bisa menjadi penyakit sosial, terutama dari segi ketahanan keluarga dan pemerintahan. Kita mesti dapat menyiapkan generasi yang kuat dan mengkhawatirkan ketidakberdayaan mereka di hari depan, misalnya.
Ini merupakan rasa khawatir yang lebih relevan, tetapi mesti menjadi bagian dari kerja sosial selain tanggung jawab pribadi. Sebab,prinsip kita adalah saling mendukung dalam kebaikan dan saling memberi manfaat.
Dalam skala spiritualitas, rasa khawatir itu hendaknya sejalan dengan fitrah kehambaan kita. Rasa khatwatir itu mendorong kita untuk tersadar akan kelemahan dan keterbatasan diri. Sehingga kita terus menerus memperbarui amal dan tak putus putus bertawakkal, baik untuk urusan dunia ataupun persiapan akhirat.[]
Taufik Sentana
Ikatan Dai Indonesia.Kab. Aceh Barat



