Studi Timur Tengah, bagaimanapun, telah membuat Bird memperoleh gelar akademis. Gelar ini menjadi momentum pertama kali bagi dirinya belajar tentang Islam secara akademik. “Universitas memberiku kesempatan bertemu banyak mahasiswa dari Arab Saudi. Awalnya, aku pikir mereka orang jahat yang membawa pedang, tetapi mereka adalah orang-orang terbaik yang pernah aku temui. Konsepsi yang aku miliki tentang negara-negara Arab benar-benar hilang,” ungkapnya.

“Mohamed Salah adalah Muslim pertama yang bisa aku kenal. Begitulah cara dia menjalani hidupnya, cara dia berbicara kepada orang lain. Suatu kali dia berfoto dengan seorang penggemar Liverpool yang menderita patah hidung karena mengejarnya. Aku tahu beberapa pesepak bola lain akan melakukan itu, tetapi Anda mengharapkannya sekarang dari Salah,” kata Bird.

Di kampus, untuk keperluan penelitiannya, Bird mewawancarai mahasiswa Mesir soal ‘Mohamed Salah, Anugerah dari Allah’. Mahasiswa Mesir itu kemudian bicara panjang lebar tentang Salah selama berjam-jam dan berbagai hal luar biasa yang telah dilakukan untuk negaranya. Bahkan, ada satu juta orang Mesir yang merusak surat suara mereka dan memilih Salah menjadi presiden pada tahun lalu.

“Salah satu orang Mesir yang kuajak bicara mengatakan, Salah mencakup seperti apa Muslim itu. Dia percaya Salah membuat orang-orang kembali mencintai Muslim,” kata Bird.

Bird sempat berpikir, Salah mencetak gol karena iman. Ketika dia memenangkan Liga Champions, itu adalah kemenangan bagi Islam. “Setelah mencetak gol, Salah sujud dan memperlihatkan simbol yang sangat Islami kepada dunia. Berapa banyak orang yang menonton Liga Inggris setiap pekan? Jutaan secara global!” ucapnya.

“Salah menunjukkan kepadaku bahwa aku bisa menjadi normal dan Muslim. Aku bisa menjadi diri sendiri. Dia pemain hebat dan dihormati oleh komunitas sepak bola dan politik, agama, dan bagi saya itulah yang bisa dilakukan sepak bola,” paparnya.

“Ketika orang membaca Alquran, atau membaca tentang Islam, mereka melihat sesuatu yang berbeda yang tidak selalu digambarkan di media. Aku baru mengenal komunitas Islam dan masih belajar. Memang susah dan ini adalah perubahan gaya hidup,” katanya menambahkan.

Bird menyesalkan sikap dirinya yang dulu, ketika masih membenci Islam. “Sejujurnya, aku memukul sosok diriku yang dulu dan berkata, ‘Hei, berani-beraninya berpikir seperti itu. Kamu perlu berbicara dengan orang lain dan harus berkata bahwa kita hidup dalam masyarakat multikultural, multiagama, dan multinasional’,” ucapnya.

Bird juga teringat musim lalu, ketika fan Chelsea menyanyikan “Salah is a bomber”. Dia sangat marah karena Muslim adalah saudara baginya. “Sekarang, aku akan berkata kepada anak-anak Muslim, ‘Jangan takut pergi ke pertandingan sepak bola.’ Aku takut dipisahkan dan tidak ingin kehilangan teman karena aku memandang mereka sebagai saudara.”

“Sekarang aku memiliki seperlima dari populasi dunia sebagai saudara laki-laki dan perempuan. Dan, komunitas ini memang harus beragam, ada yang bermain sepak bola, dan pergi ke sepak bola. Sadari bahwa kita berada dalam keadaan ini bersama-sama. Dan juru bicara terbaik untuk itu adalah Mohamed Salah,” tuturnya.[]sumber:republika.co.id