LHOKSEUMAWE – Dosen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Malikussaleh (FISIP Unimal), Teuku Kemal Pasya, menilai pola debat publik pertama antarpasangan calon wali kota dan wakil wali kota Lhokseumawe lebih baik dibandingkan beberapa debat di tempat lain di Aceh.

Debat terbuka perdana melibatkan empat pasangan calon wali kota (cawalkot) dan calon wakil wali kota (cawawalkot) itu digelar Komisi Independen Pemilihan (KIP) Kota Lhokseumawe di Gedung Serbaguna IAIN Lhokseumawe, Sabtu, 9 November 2024.

Empat pasangan calon (paslon) wali kota dan wakil wali kota Lhokseumawe itu adalah pasangan nomor urut 1 Azhari dan Zulkarnen; pasangan nomor urut 2 Sayuti Abubakar dan Husaini; pasangan nomor urut 3 Ismail dan Azhar Mahmud; pasangan nomor urut 4 Fathani dan Zarkasyi.

“Masing-masing paslon ada kemampuan untuk menjawab pertanyaan secara oral dan tidak membaca teks, itu yang kita lihat. Debat antarpaslon di Kota Lhokseumawe ini bahkan lebih bermutu (dibandingkan) dalam model debat calon gubernur dan wakil gubernur Aceh,” kata Teuku Kemal Pasya yang juga anggota Tim Perumus Debat Publik Antarpaslon Wali Kota-Wakil Wali Kota Lhokseumawe, menjawab wartawan usai acara itu.

Menurut Kemal Pasya, walaupun dalam debat perdana antarpaslon wali kota-wakil wali kota Lhokseumawe juga terjadi gimik ataupun serangan sebagian personal, “Tetapi secara umum kita melihat situasi hingga berakhirnya debat itu kondisinya terkendali”.

Baca juga: Debat Pertama, Ini Program Unggulan Empat Calon Wali Kota Lhokseumawe

Kemal Pasya menilai beberapa gagasan dari keempat paslon tersebut memang harus dilaksanakan oleh siapapun yang terpilih nantinya sebagai wali kota dan wakil wali kota Lhokseumawe. Sebab, satu sisi dalam kontestasi Pilkada Lhokseumawe 2024 tidak ada paslon petahana, sehingga empat paslon itu bisa memunculkan gagasan yang maju untuk lima atau sepuluh tahun ke depan.

“Dan, nanti masyarakat akan memilih siapa yang mereka anggap calon wali kota yang sangat konkret atau dapat menjalankan program-program yang lebih baik ke depan. Karena kita melihat Lhokseumawe sampai saat ini belum menjadi kota ideal,” ujar Kemal Pasya.

Kemal Pasya menyebut dengan tidak adanya paslon petahana di Pilkada Lhokseumawe kali ini, diharapkan bisa memberikan kesegaran baru. “Apalagi beberapa calon wali kota inikan juga pengusaha. Jadi, mereka sudah tahulah bagaimana menjalankan manajemen penataan sebuah kota,” ungkap Kemal Pasya.

Kemal Pasya menilai substansi yang para paslon sampaikan dalam debat perdana itu sebagian besar problem perekonomian. Makanya ide tentang pertumbuhan ekonomi, peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), pengurangan angka pengangguran, dan pengentasan kemiskinan tetap menjadi sektor utama. Padahal, kata dia, ada sektor lain misalnya ekonomi kreatif dan pengembangan Kota Lhokseumawe sebagai kota budaya dan seni, kurang tersentuh.

“Dari berbagai persoalan yang ada di Kota Lhokseumawe, memang dari para paslon juga menjawab dalam debat publik ini. Walaupun bagi saya mungkin sekitar 60-70 persenlah terjawab, belum cukup ideal. Tapi, kalau saya lihat pertanyaan dari panelis itu mereka menginginkan ada pemantapan pada infrastruktur kota maupun bersifat penunjangan terhadap pengembangan sosial budaya. Itu yang tidak muncul dalam jawaban paslon,” tutur Kemal Pasya.[]