BANDA ACEH – Kemenangan pilihan “Ya” adalah bermakna kembali kuatnya stabilitas Turki, sementara di Turki saat ini Islam kembali bangkit.

Ketua Departemen Humas Rabithah Thaliban Aceh (RTA), Teuku Zulkhairi, mengatakan, dengan kemenangan pilihan 'Ya” pada referendum, maka kehadiran Turki di bawah kepemimpinan Recep Tayyip Erdogan bagi dunia Islam juga akan semakin meyakinkan.

“Kemenangan pilihan “Ya” dalam referendum di Turki bukan hanya kemenangan Turki, juga kemenangan dunia Islam, kemenangan orang-orang yang tertindas, kemenangan umat Islam yang hari ini dijajah di berbagai penjuru dunia,” kata Zulkhairi, di Banda Aceh 17 April 2017.

Zulkhairi mengatakan, mungkin Erdogan tidak akan semudah membalik telapak tangan membantu dunia Islam, tapi setidaknya, dalam usaha maksimalnya membantu orang-orang yang tertindas di berbagai belahan dunia, pada saat yang sama Erdogan telah bisa memastikan Turki akan terus stabil.

“Kita berdo'a kepada Allah Swt semoga Turki terus bangkit, karena Turki adalah pewaris peradaban Islam yang agung, pusat kekhalifahan Islam di masa umat Islam berjaya di masa lampau,” kata Zulkhairi yang mengagumi tokoh politik Turki, Erbakan dan Erdogan, sehingga dua anak laki-lakinya dinamakan dengan Muhammad Erbakan (sudah sekolah TPA) dan Muhammad Erdogan.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, referendum amandemen konstitusi Turki hari ini, Ahad 16 April 2017, usai. Menurut hitungan cepat yang disiarkan yenisafak.com dari Anadolu Agency, dari 100 % suara yang masuk, 51,4 persen pemilih, memilih “Ya” untuk semua perubahan yang ditawarkan. Sementara syarat minimum adalah 51 %. Hasil hitungan cepat di Turki biasanya sama dengan hasil hitungan resmi.

Referendum Ahad 16 April 2017 di Turki untuk mengubah sekira 18 pasal konstitusi yang akan menyerahkan kekuasaan eksekutif yang lebih besar kepada presiden dan menghapus keberadaan perdana mentri.

Jabatan perdana menteri akan dihapuskan dan presiden juga akan diizinkan untuk mempertahankan hubungan dengan partai politik.

Perubahan lain termasuk usia minimum caleg dikurangi menjadi 18 dan jumlah deputi meningkat menjadi 600.

Juga, pemilihan parlemen dan presiden simultan untuk jangka lima tahun akan diselenggarakan di November 2019 di bawah konstitusi baru.[]

.[]