LHOKSEUMAWE – Panglima KPA Wilayah Samudera Pase Tgk Zulkarnaini Hamzah alias Teungku Ni, heran dengan perilaku sebagian besar ekskombatan GAM yang kini hidup layak dan mendapat posisi penting di pemerintahan. Menurutnya ada di antara mereka yang mulai lupa dengan sejarah serta para pejuang pendahulu yang syahid di masa konflik.
Mereka seperti amnesia, padahal mereka bisa besar dan hidup enak saat ini karena konflik dan berkat perjuangan Wali Nanggroe almarhum Tgk Hasan Chik Ditiro. Saya miris melihat pusara Wali di Meureu layaknya makam orang biasa, seperti jarang diziarahi. Ini bukti mereka sudah lupa dengan sejarah, kata Tgk Ni kepada portalsatu.com, di kediamannya di Gampong Kuta Blang, Lhokseumawe, Kamis, 29 Juni 2017.
Dia menilai kondisi serupa juga terjadi di hampir semua pusara mantan pejuang GAM lainnya. Dia mencontohkan seperti makam almarhum Tgk Ishak Daud di Blang Geulumpang, Idi Rayeuk, Aceh Timur, makam Tgk Abdullah Syafii, Makam Ahmad Kandang di Leuhong, Tanah Luas, Aceh Utara, Makam Tgk Sayed Adnan, Makam dr Muchtar Hasbi di Geudong dan banyak makam tokoh lainnya.
Terlebih makam Wali Nanggroe, masih terlihat batu bata, benar-benar seperti makam orang tidak penting dan tidak punya nilai sejarah. Padahal berkat jasa-jasa beliaulah orang Aceh dan mereka yang telah berkuasa saat ini bisa hidup nyaman. Apalah artinya sebuah makam dibangun dengan layak dengan apa yang telah beliau lakukan semasa hayat untuk bangsa ini, kata Tgk Ni.
Seharusnya, kata dia, makam-makam para pejuang tersebut dibangun sedemikian rupa sehingga bernilai sejarah dan dikenang sepanjang masa. Apalagi Wali Nanggroe Tgk Chik Hasan Ditiro merupakan tokoh GAM yang dikenal dunia internasional.
Menurut Teungku Ni, makam Hasan Tiro tidak hanya diziarahi oleh orang Aceh sendiri, tetapi juga pihak luar yang mengenal sosok deklarator GAM tersebut.
Dia menilai tidak penting siapa yang berada di puncak pemerintahan sekarang. Satu hal yang pasti, mereka muncul dari Gerakan Aceh Merdeka. Petinggi KPA Pase ini menyebutkan sebuah bangsa bisa hancur bila melupakan sejarah dan jasa para pejuang. Untuk itu, di momentum Idul Fitri ini pula dia mengajak masyarakat Aceh untuk meluangkan waktu berziarah ke makam para syuhada GAM.
Hari raya kedua saya berziarah ke makam Ishak Daud, setelah berdoa saya melanjutkan perjalanan ke Banda Aceh dan seperti biasa saya singgah di Meureu, untuk berziarah ke Makam Wali, disitu saya dan rombongan mengirim doa untuk semua pejuang GAM yang telah syahid, dan meminta kepada Allah agar bangsa ini tidak terpecah belah, terus damai dan mendapat berkah dari Allah SWT, katanya.[]



