JAKARTA — Tiga badan otonom organisasi massa Islam Mathla'ul Anwar (MA) mengecam keras keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengklaim sepihak ibu kota Israel di Yerusalem.

“Kota Yerussalem (Al Quds) adalah kota suci bagi tiga agama yaitu Islam, Nasrani, dan Yahudi, karena di kota itu umat muslim beribadah di Masjid Al Aqsa, umat  Nasrani beribadah di Gereja Natipiti, dan umat Yahudi beribadah di Tembok Ratapan. Klaim sepihak penguasaan Kota Yerusalem oleh negara Israel, dipastikan akan merusak kebebasan beribadah dan hubungan ketiga agama yang sebelumnya harmonis,” kata Ketua Umum DPP Generasi Muda Mathla'ul Anwar Ahmad Nawawi, melalui siaran pers, Minggu, 10 Desember 2017.

Ahmad Nawawi bersama Ketua Umum PP Muslimat Mathla'ul Anwar Hj. Trisna Ningsih Yuliati dan Ketua Umum DPP Himpunan Mahasiswa Mathla'ul Anwar Syahrial, sepakat mengecam tindakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu, 6 Desember 2017 memutuskan untuk memindahkan Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Israel, dari kota Tel Aviv ke kota Jerussalem (Al Quds).   

Menurut tiga badan otonom organisasi massa Islam tersebut keputusan Trump menjadi bukti bahwa ia sudah tersandera oleh kepentingan Israel.

Ahmad Nawasi mengatakan, Israel telah merampas kota Al Quds secara sistematis, untuk dijadikan ibu kota negara ilegal Israel, dengan mengalihkan seluruh kantor-kantor pemerintahannya juga pihak kemanan dan tentaranya, yang tentunya akan berdampak serius terhadap pembatasan ibadah bagi umat muslim dan umat Nasrani yang berada di sana.

Pihaknya mengapresiasi Pemerintah Republik Indonesia di bawah Presiden Joko Widodo serta Kementerian Luar Negeri dan seluruh pimpinan Organisasi Masyarakat Indonesia yang dengan cepat merespons keputusan Donald Trump tersebut.

Ketiga badan otonom itu juga menuntut keras agar Trump menarik kembali keputusan yang dipastikan akan merusak rintisan jalan panjang bagi terwujudnya perdamaian di Palestina, Timur Tengah, dan juga dunia.

“Kami mengajak seluruh warga sipil Amerika Serikat di dunia untuk menyampaikan mosi tidak percaya atas kepemimpinan Donald Trump yang melukai sejarah kemanusiaan dunia,” katanya.[]