Kurma Barbatee Resort merupakan wilayah produktif di sekitaran Blang Bintang Aceh Besar. Lokasinya searah dengan jalan menuju Banda Sultan Iskandar Muda. Pada mulanya kawasan Barbatee hanyalah kawasan tandus dan kosong. Kini wilayah tersebut telah beralih fungsi menjadi wahana Kurma dan variannya dengan potensi lahan seluar 500 hektar, kini dilengkapi arena kuda, panahan dan peternakan serta beberapa wahana lainnya yang menjadi trip tour yang menyenangkan dan edukatif.

Kata “Barbatee” sendiri diambil dari wilayah tandus di Spanyol saat awal Islam masuk era Umayyah yang dikomandoi oleh Thariq Bin Ziyad. Bersama Pak Mahdi dan rekan lainnya, Tgk. Syukri merintis “kebangkitan” kebun kurma di Aceh yang diproyeksikan terbesar di Asia Tenggara. “Kami memberi Harapan dan Kebaikan”, itulah motto Proyek Kurma Barbatee  Resort. Disebut harapan, karena sedari awal tidak ada yang percaya akan terbentang ratusan hektar kurma subur di wilayah tersebut, diperkirakan akan panen setahun atau dua tahun lagi.

Di sela kujungan Tim Kurma Barbatee pada acara seminar investasi di.Meulaboh, penulis sempat mendengarkan beberapa poin diskusi dan pandangan Tgk. Syukri dalam melihat ulang orientasi pembangunan Aceh ke depan. Dari konsep non ribawi, integritas tinggi, pemanfaatan potensi alam secara ramah lingkungan, tanpa kimiawi buatan dan memprioritaskan pendidikan Islam sebagai penggerak kemajuan Aceh.

Namun ada catatan khusus yang menarik penulis sajikan. Yaitu prihal tiga pokok penghabat kemajuan Aceh menurut pengalamannya selama ini baik sebagai wiraswasta dan pernah sebagai GM pada sebuah perusahaan Telekomunikasi, ataupun sebagai masyarakat biasa.

Menurutnya, tiga penghambat itu adalah: Pertama, SDM yang menganggur. Dalam arti SDM yang tidak siap mental untuk berpeluh dan bersaing, di samping faktor malas dan hanya mengandalkan kerja necis. Kedua, Tanah yang mengganggur. Artinya, ia masih melihat banyak sekali lahan yang “mati”, bukan hanya “tidur” karena tidak ada yang mengelola dengan semangat perbaikan yang tinggi dan jujur. Ketiga, Uang yang menganggur. Yaitu pandangan yang masih melihat uang itu lebih aman di Bank dan tidak langsung diputar oleh si pemiliknya untuk pergerakan ekonomi mandiri atau bentuk lainnya yang dibolehkan Islam, tanpa hanya mengendap di Bank.

Jadi menurutnya, adalah langkah jitu bila setiap kita dan para pengambil kebijakan bisa menitik beratkan perhatian ke tiga hal pokok tadi. 

Hal ini kiranya sejalan dengan catatan Kementerian Keuangan di salah satu media pada beberapa waktu lalu bahwa, konsep wisata halal  di Aceh misalnya, belum singkron dengan perbankan , masing-masing jalan sendiri, dan itu menandakan adanya gap dan ketidakberesan, nah![]

Catatan Oleh Taufik Sentana
Peminat Budaya Urban dan Kajian Sosial