BANDA ACEH – Teror yang terjadi di Jakarta beberapa waktu lalu memunculkan beragam pandangan atas kelompok radikal di Indonesia. Dosen Prodi Sosiologi, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Sehat Ihsan Shadikin, M. Ag, mengatakan, ada tiga hal munculnya kelompok radikal.
“Ada tiga secara umum. Pertama, ada persoalan pemahaman teologi. Kedua, ada persoalan ekonomi dan politik, dan ketiga, konspirasi global,” kata Sehat, dalam diskusi yang bertajuk “Meninjau Kembali Penanganan Terorisme di Indonesia”, di Banda Aceh, Jumat, 29 Januari 2016.
Sehat mengatakan, kemunculan paham dan kelompok-kelompok radikan di Indonesia sudah lama ada, yakni sejak tahun 1980-an dan mulai muncul di tingkat kampus. Kemudian gerakan ini terus berkembang di seluruh dunia.
Di kampus, kata Sehat, awal perkembangan gerakan ini mulai terlihat dengan hadirnya organisasi-organisasi mahasiswa yang bernuansa Islam dan terus berkembang. Dikatakannya juga, kehadiran gerakan ini disebabkan oleh rezim Soeharto, yang represip. Sehingga ada kesan yang terzalimi.
“Ada kelompok-kelompok tertentu yang mengatakan Islam telah ditindas oleh negara (ketika itu Soeharto presiden Indoesia), sehingga terjadi perlawanan,” kata Sehat.
Ia juga menjelaskan, terjadinya konspirasi global, memunculkan anggapan di depan Islam dan barat akan berbenturan. Ini karena marjinalisasi Islam yang kian meluas.
“Ada sebuah anggapan dan kepercayaan, jika terjadi aksi (ancaman) orang-orang barat ada dibelakang jika aksi itu. Begitu pula sebaliknya terhadap islam,” katanya.
Namun, katanya, dari ketiga hal yang ia kemukakan di atas, masih banyak faktor yang mempengaruhi muncul dan berkembangnya paham dan kelompok-kelompok radikal di Indonesia dan dunia.
Semantara itu, Muzakir, yang juga pembicara dalam diskusi umum tersebut, mengatakan, peristiwa terorisme yang terjadi di dunia dan Indonesia sudah lama ada. Ketika itu, katanya, peristiwa terorisme terjadi di kota Munich, Jerman.
“Dulu ada teroris ditangkap di Indonesia, lalu dibawa ke luar negeri dan di serahkan ke CIA (agen rahasia Amerikat). Inilah salah satu bentuk konspirasi,” ujarnya.
Ia juga menilai, teror yang terjadi di Jakarta beberapa waktu lalu, tidak berpengaruh terhadap Aceh, meskipun pelaku teror tersebut disebut latihan di Aceh.
“Tidak ada pengaruhnya tehadap Aceh. Melainkan yang berbahaya ke depannya adalah jelang pesta politik di 2017,” katanya.
Muzakir mengatakan, teror bom yang terjadi di Bali, beberapa tahun silam, menjadi bukti bahwa Indonesia belum siap mengatasi terorisme.
“Kita belum siap, baik infrastruktur hukum maupun teknologi. Setelah kejadian ini, kita (Indonesia) seperti kebakaran janggut dengan membuat undang-undang terorisme dan dibentuk Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT),” katanya.
Itupun, sambung Muzakir, tugas dari BNPT sendiri masuk sangat sempit dan terbatas. Ia pun berharap, pemerintah bisa memperluas kerja BNPT dan bisa berkoordinasi melibatkan semua stake holder. “(Tugas) BNPT harus diperluas, karena masalah terorisme akan tetap terjadi dan muncul,” imbuhnya.[](tyb)

