BANDA ACEH –  Pimpinan Dayah Babussalam Al-Aziziyah Jeunib, Bireuen, yang juga Ketua I HUDA, Tgk. H. Muhammad Yusuf Abdul Wahab tampil sebagai salah satu pemateri pada seminar digelar Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh, di Aula Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Minggu, 5 Februari 2017.

Tgk. Muhammad Yusuf Abdul Wahab sering dipanggil Tu Sop mengemukakan, setiap manusia sebagai ummat wahidah yang mempunyai dua kelemahan, yang satu lemah dalam mengorganisir menjadi kekuatan kolektif, serta mudah dan gampang dipengaruhi orang lain.

“Memang era global erat kaitannya dengan era neokolonialisasi, dimana mengeksploitasi yang lemah. Kita jangan seperti domba yang ada di kandang macan. Kita bertarung sesama kita. Padahal, kalah menang tetap akan dimangsa macan,” ujar Tu Sop dengan senyum khasnya.

“Apa saja yg membuat kita bisa menyatu? Pertama, jangan menang dengan saudara sendiri, tapi kalah di depan orang lain. Jago kandang. Kedua, membuat perencanaan. Jika kita tidak merencanakan kita akan direncanakan,” katanya lagi.

Tu Sop melanjutkan, sebagai penuntut ilmu, manusia menjadikannya sebagai jalan dan jembatan bagi dirinya sendiri. Namun, ada sebagian menempatkannya dengan ketidakadilan. “Ilmu bukan sumber kegaduhan dan kesombongan, tapi ilmu sumber kedamaian. Jangan menjadi manusia yang eksklusif”.

“Akhlak butuh lingkungan. Jangan sampai kita hidup di tengah lingkungan yang gagal akhlak,” kata Tu Sop.

Dua pemateri lainnya dalam seminar mengangkat tema “Menakar Kiprah Alumni Timur Tengah” tersebut ialah Dr. Muchlis M. Hanafi, MA. (Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur'an Balitbang dan Diklat Kementerian Agama), dan Dr. Ajidar Matsyah, Lc. MA.  (Dosen UIN Ar-Raniry).

Dr. Ajidar Matsyah menyampaikan dalam materinya, alumni timur tengah ada di berbagai lini dan sudah ada sejak dulu. “Alumni perlu merperbanyak kiprah di berbagai sisi, apalagi di bagian dakwah, karena memang ini sudah menjadi domainnya,” kata dia.

Ia mengharapkan dan menekankan bahwa alumni timur tengah harus benar-benar mendalami dan menjiwai keagamaan secara mendalam. Karena, tambahnya, hal tersebut merupakan suatu kewajiban bagi umat muslim, khususnya IKAT.

Sedangkan Mukhlis Hanafi memaparkan bahwa “azhar” itu merupakan metode. Bukan sekadar institusi, masyikhah bukan sekadar kantor administrasi, tetapi menjaga keseimbangan.

Prinsip Al Azhar yg harus dikedepankan: “tidak tergesa-gesa dalam mengambil sikap akidah takfir. Peran pemikiran Azhar menjadi da'i yang wasathi. Berpijak dengan pemikiran yang jernih. Pandai membaca zaman”.

Ketua IKAT Aceh Muhammad Fadhil Rahmi, Lc., dalam sambutannya mengatakan, di antara tujuan pelaksanaan seminar pendidikan itu sebagai bentuk evaluasi sejauh mana kiprah alumni IKAT selama ini. Ia menyampaikan banyaknya hal yang telah dilakukan IKAT, tetapi belum tampak perjalanan yang dilakukan dengan terukur.

“Selama ini banyak hal telah kita lakukan, baik pengabdian sosial, dakwah dan bahkan menjadi mitra pemerintah dalam beberapa kegiatan. Akan tetapi, tentu itu semua belum tertakar dengan jelas tentang format bentuk kontribusi para alumni Timur Tengah. Selama ini belum ada road map pengabdian yang tepat sasaran dan terukur,” ujar Fadhil.

Ia mengharapkan sinergi dari semua pihak. Baik secara moril maupun materil untuk melaksanakan kegiatan ini dengan tujuan penanaman nilai agama secara subtansial kepada masyarakat. Terutama kepada masyarakat awam dan terpelajar. kata Fadhil, dengan adanya kegiatan seminar itu dapat mengukur sejauh mana peran dan konstribusi IKAT Aceh dalam mengevaluasi semua.

Kegiatan tersebut sekaligus meluncurkan agenda prioritas IKAT tahun 2017. Agenda utamanya adalah: ToT Tahsin, Pelatihan Mawaris, Sosialisasi Pendidikan Timur Tengah dan Kaligrafi, yang dihadiri ratusan peserta serta masyarakat umum.[] (rel)