Kamis, Juli 25, 2024

Spanduk Dukungan Bustami Maju...

LHOKSEUMAWE - Sejumlah spanduk berisi dukungan kepada Bustami Hamzah untuk mencalonkan diri sebagai...

Yayasan Geutanyoe Rayakan Hari...

LHOKSEUMAWE - Yayasan Geutanyoe merayakan Hari Anak Nasional tahun 2024 bersama 227 anak...

Hendry Ch Bangun Tanggapi...

JAKARTA - Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat Hendry Ch Bangun menegaskan,...

Puluhan Personel Polres Aceh...

LHOKSUKON - Polres Aceh Utara melakukan tes narkoba melalui metode tes urine menggunakan...
BerandaTurki Berduka atas...

Turki Berduka atas Aceh Lewat Setangkai Mawar Merah

BANDA ACEH – Bertepatan 143 Tahun Perang Belanda – Aceh (26 Maret 1873 – 26 Maret 2016), Pusat Kebudayaan Aceh Turki (PuKAT) menyerahkan setangkai mawar merah sebagai tanda berkabung kepada panitia peringatan perang tersebut, Institut Peradaban Aceh (IPA) dan Aceh Trend.

Penyerahan mawar merah tersebut diwakili Ariful Azmi Usman dan diterima Haekal Afifa selaku ketua panitia. Dalam kebudayaan Turki, mawar merah tersebut bermakna duka. Turki ikut menyampaikan duka cita atas perang yang pernah terjadi di Aceh. Sebagaimana diketahui, Aceh sebagai saudara Turki, menjadi hal wajar ketika Turki ikut mengenang.

Memperingati 143 Tahun Perang Belanda – Aceh, tahun 2016, diperingati dengan membedah buku pertama karangan Tengku Hasan Muhammad di Tiro yang berjudul “Perang Atjeh 1873-1927”, di kantor Aceh Trend, Banda Aceh, Sabtu 26 Maret 2016.

“Buku ini ditulis oleh Almarhum Wali (Hasan Tiro) berdasarkan skripsinya di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta dan diterbitkan pada tahun 1948 oleh Pustaka Tiro, menariknya buku ini ditulis saat Almarhum Wali masih dalam pemikiran Indonesia,” kata Haekal.

Bedah buku ini menghadirkan Haekal Afifa sebagai penyalin ulang buku tersebut, Mantan Juru Runding GAM Munawar Liza Zainal, serta Epigraf dan Pengkaji Sejarah Aceh Teungku Taqiyuddin Muhammad. 

Acara ini dimeriahkan dengan wakaf e-book langka bertemakan Perang Aceh oleh AcehTrend.co kepada para peserta, juga memamerkan beberapa photo Perang Aceh koleksi Institut Peradaban Aceh.

Haekal mengatakan bahwa peringatan 143 Tahun Perang Belanda – Aceh kali ini tidak diselenggarakan seperti tahun sebelumnya. Hal ini dikarenakan kurangnya partisipasi dan dukungan dari pemerintah Aceh yang peduli terhadap nilai sejarah dan peradaban Aceh.

“Kita tidak lagi berharap agar pemerintah mau menyelenggarakannya, apa yang hari ini bisa kita lakukan untuk merawat dan menjaga nilai sejarah Aceh, ya, akan kita laksanakan semampu kita,” ujar Haekal.[]

Baca juga: