ISTANBUL – Ulama senior Turki pada Jumat memukul balik “tuduhan tak berdasar” pihak Jerman terhadap imam Turki di Eropa yang dituduh mata-mata, disiarkan Anadolu Agency.

Kepala Direktorat Urusan Agama Turki atau Diyanet, Mehmet Gormez, mengatakan, tuduhan tidak berdasar tersebut akan menyebabkan trauma pada massa dan penganut agama yang tidak bersalah.

Pada hari Rabu, polisi Jerman menggeledah apartemen empat imam Turki sebagai bagian dari penyelidikan atas klaim mereka telah memata-matai warga Turki yang tinggal di Jerman, khususnya mereka yang dicurigai terkait dengan Organisasi Teroris Fetullah yang dinyatakan Ankara sebagain otak kudeta 15 Juli 2016 di Turki.

Di Austria, anggota parlemen oposisi Peter Pilz juga menuduh Turki melakukan operasi jaringan informan dalam komunitas Turki.

Dalam sebuah pernyataan, Gormez mengatakan, Diyanet telah berbagi informasi dengan pihak berwenang Jerman dan enam ulama yang “melampaui wewenang mereka” dikembalikan ke Turki “sebagai itikad baik meskipun tidak pernah berpartisipasi dalam setiap tindakan pengumpulan data-intelijen atau spionase.”

“Direktorat Urusan Agama selalu menghormati norma-norma hukum yang berlaku untuk badan hukum agama dengan yang mempertahankan kontak,” kata Mehmet Gormez.

Di Jerman, ulama yang bekerja di Uni Islam Turki bidang Urusan Agama (DITIB) dikatakan telah memata-matai warga Turki.

Gormez mengatakan DITIB telah membantu mencegah penyebaran ekstremisme agama di Eropa dengan berdiri terpisah dari “struktur radikal, kelompok teroris dan lingkaran yang mengeksploitasi agama” dan mengkritik penyelidikan Jerman itu “tidak masuk akal dan tidak berguna”.

Dia menekankan Diyanet tidak berpihak dalam politik. Sehingga, kata Golmez, tuduhan Jerman untuk yang menargetkan staf pengurus agama di negaranya tersebut tidak berdasar dan tidak dapat diterima.

“Upaya ini telah menimbulkan luka moral bahwasanya lebih dari 3 juta orang Turki yang telah membuat rumah di Jerman dan lebih dari 5 juta Muslim di negara ini,” katanya.[]