Sabtu, Juli 13, 2024

Besok, Mahyuzar akan Terima...

ACEH UTARA - Dr. Mahyuzar, M.Si., akan menerima Surat Keputusan (SK) Mendagri tentang...

Jabatan Pj Bupati Aceh...

ACEH UTARA - Masa jabatan Penjabat Bupati Aceh Utara, Dr. Mahyuzar, genap satu...

Panwaslih Aceh Instruksikan Buka...

BANDA ACEH - Panitia Pengawas Pemilihan (Panwaslih) Aceh menginstruksikan Panwaslih Kabupaten/Kota segera membuka...

KAMMI Sebut Perlu Forum...

BANDA ACEH - Pengurus Daerah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Banda Aceh...
BerandaUnsyiah Ciptakan Ie...

Unsyiah Ciptakan Ie Dhiet, Ini Manfaatnya

BANDA ACEH – Fakultas Teknik Universitas Syiah Kuala (FT Unsyiah) menciptakan unit mobile pengolahan air bertenaga surya dengan nama Ie Dhiet 1.0. Inovasi karya dosen dan mahasiswa Jurusan Teknik Mesin ini diluncurkan Rektor Unsyiah Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng., di halaman kampus FT Unsyiah, Darussalam, Banda Aceh, Senin, 27 Maret 2017.

Rektor Unsyiah menjelaskan, inovasi seperti ini sangat penting, karena banyak daerah di Aceh yang kondisi airnya masih payau, sehingga masyarakat kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Selain itu, tidak semua desa di Aceh memeroleh sumber air dari PDAM. Itu sebabnya, perlu ada terobosan untuk mengatasi permasalahan tersebut.

Rektor berharap dengan alat ini masyarakat bisa mengonsumsi air bersih yang layak. “Unsyiah hanya memberikan teknologi untuk masyarakat, baik itu yang listriknya tidak ada, sumurnya susah, atau sumurnya harus dipompa dulu. Inovasi ini diberikan sebagai pengabdian Unsyiah dan untuk menjadi contoh kepada masyarakat,” ujar Samsul Rizal, dikutip dari siaran pers diterima portalsatu.com.

Ketua Laboratorium Desain dan Manufaktur FT Unsyiah, Muhammad Tadjuddin, S.T., M.Eng.Sc., mengatakan, gagasan menciptakan Ie Dhiet 1.0., ini terinspirasi dari kondisi air di lokasi bencana seperti Desa Meunasah Jurong, Kabupaten Pidie Jaya yang kurang layak untuk diminum karena banyak menggandung senyawa Fe (besi).

“Unit pengolahan air sistem bergerak ini cocoknya memang untuk daerah rawan bencana, tapi juga bisa digunakan di daerah lain yang kesulitan mendapatkan air bersih,” kata Tadjuddin.

Tadjuddin menjelaskan, alat ini bekerja dengan cara tiga kali penyaringan yang filternya terdiri dari zat mangan, karbon aktif, filter 1 micron, dan filter 3 micron. Setelah melewati tiga tahap penyaringan dengan menggunakan filter aktif tersebut, maka air yang dihasilkan bisa digunakan masyarakat. Meskipun air yang dihasilkan bisa langsung dikonsumsi, tapi Tadjuddin menegaskan air ini harus tetap dilakukan uji kelayakan di Badan Pengawan Obat dan Makanan (BPOM).

 “Kalaupun airnya tidak bisa langsung diminum, setidaknya bisa diminum setelah dimasak ataupun sudah bisa digunakan untuk mandi,” ujarnya.

Menurutnya, selain untuk pengolahan air bersih, alat ini juga menyimpan energi listrik dengan daya 220 volt dan fasilitas penerangan 12 volt. Sumber energi mesin berasal dari solar cell. Satu unit alat ini menghabiskan biaya 30-35 juta rupiah untuk pembuatannya, dengan masa pengerjaan selama sebulan.

“Sumber dana pembuatan Ie Dhiet 1.0., berasal dari sumbangan masyarakat Kalimantan Utara untuk korban gempa Pidie Jaya Rp10 juta dan selebihnya dari Unsyiah. Rencananya, unit pengolahan air mobile ini akan dibawa ke Pidie Jaya pada Kamis, 30 Maret 2017,” kata Tadjuddin.

Wakil Dekan II FT Unsyiah, Dr. Zahrul Fuadi, S.T., M.Sc., menambahkan, terobosan baru ini harus menjadi pemicu bagi mahasiswa Unsyiah lainnya untuk berkarya, karena salah satu indikator kinerja Unsyiah adalah adanya inovasi. Unit pengolahan air mobile ini merupakan inovasi yang kesekian kalinya dari FT Unsyiah. Sebelumnya FT berhasil menciptakan mobil listrik Malem Diwa dan perahu Katamaran. 

“FT mempunyai 40 laboratorium. Kalau bisa 1 lab melahirkan 1 inovasi setiap tahunnya. Pihak fakultas selalu memberikan dukungan penuh untuk menghasilkan sebuah inovasi,” pungkas Zahrul.[](rel)

Baca juga: