Jumat, Juli 19, 2024

Ini Kata Camat Tanah...

ACEH UTARA - Pemerintah sedang melakukan pendataan bangunan yang rusak akibat diterjang badai...

JPU Tuntut Lima Terdakwa...

BANDA ACEH - Jaksa Penuntut Umum menuntut empat terdakwa perkara dugaan korupsi pada...

Abu Razak Temui Kapolda,...

BANDA ACEH – Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh H. Kamaruddin...

Diterjang Badai, Lapak Pedagang...

ACEH UTARA - Banyak lapak pedagang dan warung di sepanjang jalan Simpang Rangkaya,...
Beranda: Kawasan TPA...

[VIDEO]: Kawasan TPA Penting untuk Arkeologi Sejarah Aceh

BANDA ACEH – Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) memaparkan sejumlah kompleks pemakaman penting era Kerajaan Aceh Darussalam yang berada di kawasan ibukota Aceh saat ini. Titik poin persebaran kompleks makam ini merujuk kepada Peta Aceh yang dibuat Belanda pada akhir abad 19 Masehi.

“Dari data inilah Mapesa mengidentifikasi kembali sebaran-sebaran nisan yang ada di Banda Aceh, hingga Gampong Keudah, Peulanggahan, satu lagi di Lampaseh Kota. Dari ribuan sebaran nisan yang kita temukan, bahkan ada belasan kompleks-kompleks pemakaman lain yang tidak kita temukan lagi. Kita tidak tahu itu hilang karena tsunami, atau justru hilang karena ulah pemerintah atau masyarakat,” ujar Ketua Mapesa, Mizuar Mahdi, di salah satu warung kopi Banda Aceh, Senin, 4 September 2017.

Dia mengatakan sebaran nisan yang termasuk terancam hilang saat ini adalah kompleks makam di Gampong Pande, Banda Aceh. Selain itu, menurut Mizuar, di bawah tumpukan sampah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Gampong Jawa, Banda Aceh, tersebut juga diduga kuat tertimbun kompleks pemakaman penting dari Kerajaan Aceh Darussalam. 

“Pada tahun 1990-an, sebelum TPA itu menjadi besar seperti sekarang, banyak ditemukan makam-makam dari zaman Kesultanan Aceh Darussalam dalam bentuk nisan berukir. Dari makam itu, banyak dapat kita informasi-informasi berharga, baik makamnya, maupun kiprah tokoh yang dimakamkan ini,” ujar Mizuar Mahdi.

Dari hasil penelusuran Mapesa baru satu kompleks makam yang berhasil ditemukan. Dia berharap proyek Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL) tersebut dihentikan.

“Agar bisa kita rekonstruksikan kembali bagaimana wajah Aceh Darussalam masa lalu hingga masa kini. Itu harapan kita,” kata Mizuar.[]

Baca juga: