Wawancara Wali Kota Singkawang, Kalimatan Barat, Drs. H. Awang Ishak M.Si, di Pameran Batu Aceh, Museum Aceh, Banda Aceh, 9-16 Mei 2017.

Menurut laman indonesia-heritage.net, Masjid Raya Singkawang Ditengah Warga Tionghoa, disebutkan:

Kota Singkawang adalah satu dari dua kota di Provinsi Kalimantan Barat yang mempunyai 14 wilayah setingkat kabupaten. Salah satu ikon wisata di Kalimantan Barat. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Singkawang tahun 2010, terlihat komposisi penduduk  Muslim 101.872  jiwa, Katolik 8.614 jiwa, Protestan 15877 jiwa dan 138 Budha. Kaya akan budaya, multi kultur, dan ikon yang penting selain klenteng dan keriuhan barongsai adalah Masjid Raya Singkawang.

Mesjid tertua di kota Singkawang ini dibangun komunitas Tambi yang ada di singkawang. Mesjid ini terletak di tengah kota Singkawang tepatnya di jalan Merdeka Singkawang yang lokasinya berdekatan dengan hotel Putra Kalbar dan Khatulistiwa I. Masjid yang tegak di jantung Kota Singkawang merupakan simbol kerukunan beragama. Masjid tua selain fungsi utama tempat beribadah umat muslim, Masjid Raya Singkawang juga merupakan peninggalan budaya sekaligus objek wisata di antara kelenteng.

Masjid yang megah dibangun oleh etnis Tambi itu tetap indah dalam kerukunan di antara warga Tionghoa. Masjid yang indah tersebut dibangun kembali bergaya dan dihiasi ornamen Timur Tengah. Dua menara yang menjulang tinggi mengesankan kekokohannya dan dikelilingi pagar yang megah.

Renovasi masjid kebanggaan masyarakat Kota Singkawang ini memang berubah dari aslinya. Direncanakan sejak 2008 dengan kebutuhan dana sekitar Rp7,4 miliar, diperkirakan hanya akan menghabiskan Rp 3 miliar saja. Rendahnya biaya lantaran sumbangan masyarakat tidak seluruhnya berupa uang tunai melainkan juga bahan atau material bangunan.

Masjid tertua Kota Singkawang yang juga menjadi salah satu objek wisata religi ini lebih besar ketimbang bangunan aslinya, sehingga harus dilakukan pembebasan lahan milik warga dan lahan milik Pemkot Singkawang.

Sebagaimana diketahui, Pameran bertema ''Mengenal Batu Nisan Aceh – Sebagai Warisan Budaya Islam di Asia Tenggara”, dilangsungkan di Museum Aceh, 9-16 Mei 2017.

Pameran ini berlangsung di ruang pameran kontemporer dan di halaman museum. Di dalam ruangan berisi foto, batu nisan, dan penjelasannya.

Di halaman Museum, ada batu nisan yang diatur seperti mini kompleks makam sebagai bahan pameran. Batu-batu nisan tersebut adalah yang diselamatkan oleh Mapesa dan Dr Husaini Ibrahim, dibawa ke Museum untuk pameran.

Bagian pameran juga komplek makam salah satu dinasti Sultan Aceh Darussalam, di halaman gedung museum. Dan bagian pameran komplek makam Sultan Ibrahim Mansur Syah, di Baperis (kompleks Makam Sultan Iskandar Muda) juga menjadi bagian dari pameran ini.

Pameran enam hari ini dilaksanakan oleh Museum Negeri Aceh bersama Mapesa (Masyarakat Peduli Sejarah Aceh) dan BPCB. Batu nisan yang dipamerkan nantinya adalah warisan Kesultanan Lamuri, Samudra Pasai, dan Aceh Darussalam.

Selain pameran, setelah dibuka tadi siang, diadakan seminar tentang batu nisan Aceh dengan pemateri Dr Husaini Ibrahim, Deddy Sastria, dan seorang arkeolog dari Sumatra Utara.

Mapesa mengirim 3 pemandu untuk pameran selama enam hari ini. Salah seorang pemandu tersebut, Afrizal Hidayat, menjelaskan tentang batu nisan yang di halaman Museum Aceh kepada seluruh hadirin.

Sebelumnya, Gubernur Aceh Zaini Abdullah menyatakan segera mengeluarkan peraturan gubernur (Pergub) tentang Batu Nisan Aceh, dan mendaftarkan benda warisan dunia Islam dari peradaban Aceh tersebut di UNESCO sebagai benda warisan budaya dunia.[]