Oleh: Syukri Isa Bluka Teubai

Hari Kamis, tanggal 17 Maret 2016, pukul empat belas lewat dua puluh satu menit. Waktu siang menjelang sore hari tersebut. Adalah komentar yang ikut mengomentari sebuah status di Facebook saya, namun dalam hal yang berbeda.

Bukan dalam bentuk pujian atau semacamnya, namun dengan hal itu membuat saya bertanya-tanya sendiri di dalam hati. “Saudara Syukri Isa Bluka Teubai di mana tinggal di Aceh? Malam esok kami ada pertemuan dengan penulis Aceh” adalah begitu akan pertanyaan di laman komentar dunia maya  di hadapan saya itu.

Sedikitpun tiada mengira akanpada kesempatan yang luar biasa ini terjadi, bersabab tiadapun akan tanda-tanda daripadanya itu. Setelah saya melihat siapa yang mengomentari status tersebut, seketika meng-inbox ia yang berkomentar tadi. Dan ianya pun membalas.

“Saya berada di Banda Aceh sekarang! Syukri ada ikut serta dalam buku antologi Istaqamah Bahasa?” tanya pria tersebut. “Tak, tetapi di dalam buku antologi Mahabbah Bahasa ada,” jawab saya. “Kalau ada masa, boleh nanti malam kita berjumpa. Saya ada bawa buku antologi Mahabbah Bahasanya ini,” jawab lelaki itu.

Adalah kanda Wacana Minda, penyair sekaligus penulis yang merupakan juga pengajar tersebut berasal dari negeri Jiran. Ia salah seorang dari pegawai di Kementrian Pendidikan Malaysia, sekarang berada di Banda Aceh untuk menghadiri acara yang tiada saya tahu itu.

Setelah mendapatkan pesan dari penulis buku “Kumpulan Puisi LAKI-LAKI” itu, saya pun menjadi resah, oleh kerana, apabila menjumpainya sendiri, ini tiada mungkin. Saya belum banyak tahu tentang sejarah, khususnya Aceh. Apalagi pada hal-hal yang lain. Kalau ia bertanya pada saya nantinya, maka kesalahan akan kesalahan tentang sejarah semakin menjadi-jadi di tanah Rincong ini.

Oleh sabab itulah, saya pun mengingat akanpada siapa yang mahu diajak. Lalu teringatlah kepada seseorang, dan ia adalah Thayeb Loh Angen. Yang juga guru saya dalam hal menulis. Kanda Thayeb akanlah orang yang tepat untuk saya ajak. Pendiri sekolah Hamzah Fansuri itupun saya telpon.

Setelah kanda Thayeb Loh Angen bersedia untuk menemani, barulah ada sedikit akan ketenangan rasa di hati. Pukul sembilan kurang lima belas menit, Kamis malam. Masih di tanggal yang sama, 17 Maret 2016. Kami pun bergegas untuk menjumpai kandidat PH.D (Doktor) dalam bidang bahasa dan komunikasi tersebut di Hotel 61 yang berada  di Simpang Lima Banda Aceh.

Setelah bertemu dengan pria yang berbadan tegap tersebut di tempat rehatnya itu, kami pun bersalaman dan saya berkata, “Selamat datang di Aceh, ini adalah satu kesempatan yang sangat luar biasa bagi saya kerana bisa berjumpa dengan kanda. Dan sekarang sudah bertemu muka.”

Kami pun keluar untuk mencari kedai kopi, Tower Coffi. Di sanalah tempat yang mudah dijangkau, kerana keluarnya jalan kaki oleh sabab motor yang kami (Saya dan kanda Thayeb) bawa cuma satu. Rasa keakraban pun kian tersemai di balik hembusan sepoi-sepoi angin malam.

Sejenak, salah seorang seniman yang sangat lihai dalam hal bermain debus Aceh menghampiri kami di kedai kopi tersebut. Ia adalah Ampon Nazar. Kanda thayeb pun langsung memintanya untuk bergabung dengan kami sekaligus memperkenalkan padanya akan kanda Wacana Minda, “Nyoe syara dari Malaysia -ini saudara kita dari Malaysia!” ujarnya.

Kami pun terus larut dalam cerita. Adalah berbagai macam hal dibicarakan di kesempatan yang tiada disangka-sangka tersebut. “Kami di sini berjumlah lima orang, dua orang lagi malam ini akan ke sini (Aceh),” pungkas kanda Wacana Minda di sela-sela waktu kami sedang bercakap-cakap.

Dan tiada lupa kanda Wacana Minda memberikan saya buku Antologi Sajak 52 Penyair “Mahabbah Bahasa” yang turut saya sertai. Buku antologi tersebut disertai oleh para penyair dari berbagai Negara, di antaranya, Malaysia, Jerman, Brunai, Thailand, Indonesia dan lain-lainnya.

Ia juga turut memberikan kami satu buku puisi yang bertema “Kumpulan Puisi LAKI-LAKI” khusus buku karangan ianya sendiri. Kanda Thayeb Loh Angen pun turut memberikan novel terbarunya “Aceh 2025” kepada kanda Wacana Minda. Setelah semua itu berlaku, kami pun pamit pulang. Dan insyaallah akan berjumpa di lain waktu.[]