BIREUEN – Ketua Prodi Pendidikan Agama Islam IAI Al-Aziziyah Samangala Tgk. Masrizal Mukhtar, MA mengatakan, anak merupakan anugerah dan amanah Allah. Karena itu setiap anak hendaknya mendapatkan nilai-nilai pendidikan sejak ia dilahirkan.
“Anak sebagai generasi penerus dan amanah yang sangat berharga, maka tarbiyah kepada mereka terutama di bidang akidah dalam pandangan Islam harus ditempatkan pada posisi yang paling mendasar,” katanya kepada portalsatu.com, Minggu, 6 November 2016.
Hal ini katanya penting untuk memupuk dasar-sasar akidah anak dan harus terus menerus ditanamkan dalam diri mereka. Sehingga pertumbuhan dan perkembangan anak tumbuh berdasarkan akidah yang benar.
Ia juga menurutkan, setiap umat Islam senantiasa menjaga hubungan baik dengan Allah SWT. Nilai-nilai Islam tersebut harus diterapkan dan ditanamkan kepada pribadi dan anak-anak dalam membina hubungan dengan sang Khalik. Mencakup beriman kepada Allah, bertawakkal kepada Allah, menyatakan syukur atas segala nikmat Allah dan tidak berputus asa dari Rahmat Allah.
Kita sebagai orang tua patut khawatir tentang aqidah anak-anak terutama di era globalisasi dan informasi seperti sekarang ini. Dengan kekhawatiran itu, orang tua diharapkan tetap menekankan pentingnya pendidikan aqidah ini, sehingga ia berupaya maksimal hingga akhir hayatnya dalam mendidik anaknya agar tetap istiqamah dalam beraqidah. Dalam hal ini, orang tua patut meneladani Nabi Yakub a.s. yang senantiasa mengkhawatirkan aqidah anak-anaknya hingga menjelang ajal menjemputnya, kata kandidat dokter pendidikan UIN Ar-Raniry itu.
Ia mengisahkan bagaimana Nabi Ya'cub dalam mendidik anak-anaknya tergambarkan dalam surat Al-Baqarah ayat 133. Bunyinya: Adakah kamu hadir ketika Ya'qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.
Bentuk penerapan lainnya kata dia, dengan melaksanakan pendidikan akhlak di lingkungan rumah tangga supaya dicontohkan anak sejak masih bayi.
“Langkah-langkah yang ditempuh di antaranya, memberi bimbingan untuk berbuat baik kepada kedua orang tua, memelihara anak dengan kasih sayang, memberi tuntunan akhlak kepada anggota keluarga, membiasakan untuk menghargai peraturan-peraturan dalam rumah tangga seperti tata cara hubungan antar sesama anggota keluarga, membiasakan untuk memenuhi hak dan kewajiban antar sesama kerabat, kata Tgk Masrizal Mukhtar yang juga guru senior di Dayah MUDI Mesra Samalanga itu.
Ia menambahkan, anak juga harus ditunjukkan bagaimana cara menghormati dan tata krama pada orang tua, guru, saudara, serta sopan santun dalam bergaul dengan sesama manusia.
Akhlak merupakan buah dari aqidah dan ibadah seseorang. Bisa juga dikatakan bahwa salah satu indikator baik tidaknya aqidah dan ibadah seseorang adalah dilihat dari akhlak yang ditampilkannya. Demikian pentingnya aspek akhlak ini, maka orang tua juga memiliki peran penting dalam mendidik akhlak anak sejak anak tersebut dilahirkan. Setelah bayi lahir, mohon perlindungan Allah agar anak terhindar dari godaan syetan pun tetap dilakukan sebagaimana yang dilakukan oleh istri Imran pada ayat di atas. Sebab terdapat penjelasan dalam hadis Rasulullah SAW tentang adanya gangguan setan saat anak lahir.”
Terkait hal itu juga dijelaskan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim yang bunyinya: Tiada seorang anak Adam pun yang baru dilahirkan, melainkan setan menyentuh saat kelahirannya hingga ia menangis karena sentuhan setan itu, kecuali Maryam dan putranya.
“Jadi kita sebagai orang tua agar bayi yang lahir tidak diganggu oleh setan, maka hendaklah kita berdoa kepada Allah SWT. Selain doa, juga adzan harus dikumandangkan sesaat sesudah anak lahir juga mengandung beberapa hikmah, salah satu di antaranya adalah agar setan menjauh dari si anak tersebut,” katanya.[]

