MEUREUDU – Pimpinan Dayah LPI Hidayatullah Al-Aziziyah Meunasah Paku, Teungku M. Jafar atau Waled Meunasah Paku mengatakan, ketika musim kemarau panjang membuat makhluk di bumi sangat menderita. Namun, ketika hujan turun bukan hanya menjadi rahmat tapi juga bisa menjadi obat. Segala sesuatu katanya, bisa dilihat dari berbagai perspektif.

“Umpamanya hujan seperti yang turun hari ini, bisa dilihat dari segala sudut pandang. Hujan bisa sebagai rahmat bisa pula sebagai bencana. Saya mau berbagi sedikit ilmu dan pengalaman dan resep bagaimana air hujan bisa sebagai obat,” katanya kepada portalsatu.com di Ulee Glee, Selasa, 25 Oktober 2016.

Berdasarkan ilmu yang ia pelajari dari ahli metafisika Samalanga, Abati Simpang Matang dijelaskan, untuk menampung air hujan yang bisa menjadi obat tersebut diperlukan wadah dari plastik atau kaca dan dalam keadaan bersih. Tidak dibolehkan wadah dari metal/kaleng.

“Setelah itu letakkan wadah tersebut di tempat yang tinggi tanpa terhalang oleh benda lain. Jadi benar-benar air jatuh dari langit dan langsung masuk ke wadah,” kata ulama fikih asal Bandar Dua, Pidie Jaya itu.

Ia juga menjelaskan, hujan yang ditampung haruslah hujan yang terjadi pada malam hari tetapi menampungnya saat hujan yang telah lewat tengah malam dan sebelum matahari terbit. Ketika air hujan dalam wadah sudah diambil, ditutup rapat dan jauhkan dari cahaya matahari langsung.

“Di antara kegunaan air hujan tersebut, kalau badan sakit panas, demam, pusing, minum air hujan satu gelas (pakai gelas plastik/kaca) atau secukupnya, dengan membaca Al Fatihah terlebih dahulu. Bisa juga air hujan tersebut untuk dikompreskan di kening atau kepala dengan menggunakan handuk. Bisa juga dengan cara yang sama (diminum) untuk menghilangkan kegalauan, perasaan tidak menentu atau anak rewel,” kata kandidat master IAIN Malikussaleh Lhokseumawe itu.

Ia juga menjelaskan mengapa harus air hujan yang jatuh lewat tengah malam dan tidak boleh terkena benda lain.

“Berdasarkan petuah guru saya bahwa kondisi cuaca pada malam hari lebih bersih daripada siang hari dan dengan piranti selain metal untuk menghindari efek metal saja. Tetapi yang paling baik menurut beliau adalah dengan bahan keramik dari tanah dan kaca,” kata alumnus Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga itu.

Namun tambah Waled, ” alangkah baiknya menampung air hujan yang jauh dari lokasi pabrik yang memiliki cerobong asap,” katanya.[]