SUBULUSSALAM – Wali Kota Subulussalam, Merah Sakti berharap kepala mukim di masing-masing kecamatan bisa menguatkan adat istiadat dan budaya lokal sehingga tidak tergerus budaya luar seiring dengan perkembangan zaman.

“Utamakan adat daerah, jika dalam pesta perkawinan misalnya orang Jawa ingin membawa adat Jawa silakan, tapi jangan lupakan adat lokal juga,” kata Merah Sakti usai melantik lima kepala mukim dalam wilayah Subulussalam, Selasa 30 Agustus 2016.

Merah Sakti mengatakan, yang terjadi belakangan justru terbalik. Adat budaya luar justru menonjol, sementara budaya lokal semakin tergerus. Kata dia, ini menjadi tugas kepala mukim yang baru untuk menguatkan kembali adat daerah.

“Ada suku kecil, justru memunculkan adatnya, tapi mengabaikan adat lokal, ini tidak boleh terjadi lagi,” ujar Sakti.

Untuk menguatkan adat dan budaya lokal, Sakti berjanji akan mengakomodir ide-ide dan gagasan dari kepala mukim untuk diusulkan dalam anggaran tahun depan. “Agar adat dan tradisi kita selama ini tetap terjaga dengan baik,” ungkapnya.

Sakti mengaku sangat tertarik dengan orang Papua. Meski tata cara berpakaian masyarakat di sana tidak menutupi seluruh aurat sehingga tubuh bagian depan dan belakang terlihat. Namun ada sisi positifnya yaitu persoalan adat yang sangat kental dan tidak pernah luntur.

“Saya tertarik dengan orang Papua, mohon maaf, pinggul nampak, pada bagian depan juga nampak 75 persen, jelek-jelek orang Papua, mereka gunakan adat mereka sendiri, ini sangat bagus,” kata Sakti.

Ada perbandingan yang sangat jauh dengan warga Kota Subulussalam yang cenderung mengabaikan adat lokal dan mengutamakan budaya luar. “Apa kabar dengan Subulussalam, bisakah kita mempertahankan adat istiadat seperti mereka,” tanya wali kota kepada hadirin yang hadir.

Adapun kelima kepala mukim yang lantik yakni H Ismail Aso Kepala Mukim Kombih, Abdul Rahman Kepala Mukim Binanga, Raja Usman Kombih Kepala Mukim Kuala Keppeng, Harisman Sambo Kepala Mukim Batu-Batu dan Labai Kepala Mukim Longkib.[]

Laporan Sudirman