Oleh Taufik Sentana

Bekas tangan wanita itu masih ada di cerminku. Harum nafasnya masih ada dalam lipatan-lipatan pakaianku. Gema indah dan lembut suaranya masih terdengar di ruangan ini.

Dan entah kenapa, ia akan terus menggodamu. Sebab ia telah pergi dariku ke lembah pembuangan dan pelupaan. Walau potretnya masih menggantung di sisi ranjang dan di dinding ruang tamu, sedang surat- surat yang dia tulis telah kusimpan di kotak perak, untuk itu ia akan terus merebut hatimu. Sebab ia dihias oleh Tangan Keindahan, sedang  dalam diri wanita itu merangkum watak merpati, ular, merak, dan serigala serta malam gulita yang mencekam.

Aku telah mengenal wanita itu sejak kecil. Dan ia akan terus menggodamu. Aku telah mengikutinya ke ladang ladang, menggamit kelim bajunya, ia juga telah berjalan ke kota-kota. Begitulah, aku memang mengenalnya semenjak masa mudaku menanjak. Aku telah melihat sinar wajahnya di halaman buku dan pengamatanku langsung: suaranya merdu seperti bisikan aliran anak sungai di keheningan hutan.

Kepadanya telah kubuka semua rahasia ketidakpuasan hatiku. Hingga aku ingin ia tetap pergi ke tempat jauh dan dingin, terpencil penuh kekosongan. Tapi mungkin ia akan tetap menjumpaimu, menggodamu, menarik lengan dan tangkai hatimu.

Wanita yang hatiku seakan masih mencintainya adalah kehidupan nan cantik penuh pesona dan melalaikan. Ia mengubur setiap hasrat dalam janji keabadian.

Maka kehidupan yang molek dan menggoda ini akan memandikan si pencintanya dengan air mata, lalu menikmati darah korbannya bagai minyak, sedang pakaiannya adalah hari hari putih yang dibatasi malam-malam bisu.

Siapa yang mengenal tipu muslihatnya akan melarikan diri dari pesona- pesonanya yang memabukkan.[]

*Diadaptasi dari “Suara Sang Guru”
Kahlil Gibran, Bentang, 1999.
Taufik sentana banyak menulis puisi dan esai sosial budaya. Sedang merampungkan Buku Puisi “Password Kebahagiaan”.