Senin, Juli 15, 2024

Peringati Hari Bhakti Adhyaksa...

BLANGKEJEREN - Kejaksaan Negeri Kabupaten Gayo Lues kembali menggelar bakti sosial (Baksos) dan...

Kapolres Aceh Utara AKBP...

LHOKSUKON - AKBP Nanang Indra Bakti, S.H., S.I.K., kini resmi mengemban jabatan Kapolres...

Temuan BPK Tahun 2023...

BLANGKEJERN - Badan Pemeriksa Keungan (BPK) Perwakilan Aceh menemukan kelebihan pembayaran pada anggaran...

Pj Bupati Aceh Utara...

ACEH UTARA - Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menerbitkan surat keputusan (SK) tentang...
BerandaNewsWarga Lesten Gunakan...

Warga Lesten Gunakan Traktor untuk Transportasi

BLANGKEJEREN – Masyarakat Desa Lesten, Kecamatan Pining, Gayo Lues, sejak berpuluh-puluh tahun lalu hingga kini belum terjangkau alat transportasi yang layak, bahkan selain berjalan kaki sejauh 18 kilometer ke Desa Pining, masyarakatnya pun kini terbiasa menggunakan Jonder (traktor) sebagai transpotasi satu-satunya.

“Menggunakan sepeda motor juga sulit bisa sampai ke desa Lesten, lumpur jalannya sampai 1 kilometer,” kata Faisal Reda yang seminggu lalu bersama Club Gayo Lues Ekstrem Adventure (GEAR) menuju ke Lesten kepada Portalsatu.com di Blangkejeren, Gayo Lues, Sabtu 16 Januari 2016.

Jonder adalah sebutan untuk traktor yang diambil dari merek traktor “Jhon Deere”, dan kini menjadi satu-satunya angkutan menuju dua dusun di Kampung Lesten.

Di Kampung Lesten terdapat sekitar 64 Kepala Keluarga yang rata-rata masyarakatnya hidup dari hasil pertanian Coklat, Kopi, dan Padi. Sebagian besar hasil tersebut dipasarkan ke Kampung Pining menggunakan angkutan Jonder yang biayanya disesuaikan dengan berat. Untuk hasil pertanian dikenakan ongkos Rp.4000/kilogram, dan untuk penumpang dikenakan biaya hingga Rp45.000/perorang.

Jarak Kampung Lesten ke ibukota Gayo Lues mencapai lebih kurang 40 kilometer, sementara mencapai Pining sejauh 18 kilometer.

“Jalan yang berlubang dan berlumpur sekitar 16 kilometer,” ujar Daus, anggota GEAR lainnya.

Dijelaskan Daus jalan menuju Lesten dalam bahasa Gayo dikenal dengan istilah Tunah ni Koro atau dalam bahasa Indonesia disebut “berlubang”.

Informasi yang berhasil dihimpun Portalsatu.com menyebutkan, jalan menuju kampung tersebut dulunya masuk dalam agenda pembangunan jalan Ladia Galaska, namun terhenti sebelum pengerasan dilakukan. Jalan tersebut juga menghubungkan Gayo Lues dengan Tamiang, Aceh Timur.[]

Baca juga: