BLANGKEJEREN – Kunjungan anggota DPR Aceh Muhammad Amru ke wilayah pedalaman Gayo Lues di Kecamatan Pining dimanfaatkan masyarakat setempat untuk menyampaikan uneg-unegnya.
Camat Pining, Khairul Effendi, kepada Muhammad Amru mengatakan, pembangunan desa di kecamatan itu terbilang lamban. Meski banyak dana pembangunan mengalir ke daerah itu kata Khairul, namun pengerjaannya dilakukan asal-asalan oleh pihak kontraktor. Termasuk dalam pengelolaan air bersih yang tak kunjung selesai, membuat warga setempat hingga kini harus mengonsumsi air keruh.
Selain keluhan terkait sanitasi yang terkesan 'cilet-cilet', warga Pining juga mengeluhkan perawatan jalan provinsi yang sering telat dan pelaksanaannya sangat tertutup. Saat musim hujan mengakibatkan terjadinya longsor dan rawan kecelakaan.
“Perawatan jalan provinsi ini memang tidak serius dan apa adanya,” kata Camat Khairul Effendi, kepada Muhammad Amru dalam kunjungannya ke daerah terpencil itu pada Senin, 18 Januari 2016.
Selain itu kata Khairul, di ibu kota kecamatan masih diperlukan 10 unit pasar yang dilengkapi sarana MCK, sebab pasar yang ada sekarang belum memadai dan kurang, terutama MCK.
“Karena fasilitas yang kurang ini, masyarakat juga sering kali terserang penyakit,” katanya.
Kecamatan Pining memiliki 9 desa dengan masing-masing kampung ada 4 dusun. Seluruh kampung sangat bergantung pada Kampung Pining yang menjadi sentra ekonomi hasil perkebunan masyarakat. Pining yang berjarak sekitar 20 kilometer dari ibu kota Gayo Lues, Blangkejeren hingga kini belum merasakan sinyal telepon selular, padahal Pining juga penghubung antara Gayo Lues dengan Aceh Timur. Dulu Pining dikenal sebagai daerah penyeludup ganja terbaik dunia, namun kini masyarakat sudah beralih menjadi petani kakao.[] (ihn)


