BANDA ACEH Setelah dilantik oleh Menteri ESDM Sudirman Said, Senin (kemarin), kini Marzuki Daham resmi menjabat Kepala Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA).
Berikut petikan wawancara portalsatu.com dengan Marzuki Daham, Senin, 11 April 2016, malam
Bagaimana perasaan Anda setelah terpilih dan dilantik sebagai Kepala BPMA?
Ya, bagaimana, ya. Bagi saya ini adalah tugas berat.
Mengapa Anda tertarik untuk menjadi Kepala BPMA?
Kemarin ada dibuka perekrutan terbuka. Ya, karena saya memang sudah lama di perminyakan, saya mencoba. Kalau diterima ya, Alhamdulillah. Dan, juga banyak teman-teman yang mendorong saya. Setelah diterima, saya katakan pada mereka bahwa pekerjaan baru dimulai. Masih banyak yang harus dibantu.
Apa prioritas Anda untuk BPMA ke depan?
Persoalan minyak dan gas sebelumnya kan ditangani SKK Migas yang sekarang dilimpahkan kepada BPMA. Jadi, tugas utama saya adalah memastikan kegiatan yang berjalan sekarang tetap berjalan, dan sedini mungkin untuk menciptakan BPMA menjadi lembaga yang profesional.
Bagaimana Anda melihat potensi Migas di Aceh?
Potensi Migas di Aceh itu seperti ikan di laut. Tidak ada yang berani bilang tidak ada ikan di laut. Tapi pertanyaannya, masih ada tidak nelayan yang mencari ikan di laut. Artinya, apakah masih ada investor yang mencari minyak di Aceh?
Mengapa muncul dugaan investor tidak lagi mencari minyak di Aceh?
Ini terkait faktor keamanan dan kedewasaan kita. Biaya mencari ladang minyak itu sangat besar, apalagi ada risiko tidak ada Migas-nya. Mana ada investor yang mau buang uang jika faktor keamanan tidak terjamin. Jadi, hal inilah yang menjadi tugas kita bersama untuk menjadikan Aceh aman bagi investor.
Apakah keberadaan BPMA akan membuat perekonomian Aceh maju?
Tentu saja. Dengan adanya lembaga ini otomatis kita sudah mengelola sendiri hasil alam kita di sektir Migas. Sehingga lapangan pekerjaan akan terbuka lebar. Dan, ini akan menyerap tenaga kerja sekaligus memajukan sektor ekonomi.[] (idg)





