Oleh: Bairuindra
Biasanya, wisata itu identik dengan tempat menarik, kuliner sedap, maupun keelokan dan keunikan manusia yang ada di daerah tujuan. Wisata yang demikiansih kayaknya terlalu basi. Di mana-mana ada. Nah ini, wisata yang tak biasa. Itu ada di Aceh!
Tahu dong istilah Earth Hour? Selebrasi mengenai ini rutin dilaksanakan pada Maret. Orang-orang tuh pada bangga adanya dunia tanpa lampu pada jam-jam tertentu. Kayaknya baru merasakan dunia gelap di malam hari pada saat itu saja. Padahal, di Aceh istilah beken kayak gitu bukan lagi kebanggaan namun malapetaka. Bayar listrik sih mahal tiap tahun naik, bahkan ada yang pemakaian sekadarnya eh giliran bayar malah bengkak sampai jutaan rupiah tapi urusan kehidupan sejahtera dengan adanya listrik percuma saja diomongin karena Aceh hampir selalu gelap gulita, apalagi menjelang bulan Ramadhan begini.
Kami tuh sudah catat dengan benar kapan jadwal mati lampu. Jam-jam penting dan genting adalah waktu yang pas banget berada dalam gelap gulita. Jam-jam ini disinyalir sebuah kemewahan bagi kami yang butuh sesuatu untuk asupan makanan sebelum maupun sesudah beraktivitas. Jam pertama mati lampu itu magrib. Hampir tiap magrib adalah wajar kehidupan di Aceh gelap gulita. Azan sedang berkumandang eh listrik padam. Lima menit saja lampu padam kayak pertanda larangan untuk menunaikan ibadah salat magrib. Jam padat lain adalah waktu subuh. Kebiasaan memang di pagi hari itu lampu mati. Geram sih iya karena ibu-ibu kudu tanak nasi di rice cooker. Anak-anak perlu air penuh di bak untuk mandi. Nggak mungkin dong ke sekolah dengan bau badan dan kucek begitu.
Mati lampu lima menit saat magrib bisa dimaklumi saja. Namun saat mati lampu nggak keruan bikin kepala puyeng. Untung rugi ada di masyarakat Aceh nan permai ini. Masyarakat diminta bayar iuran tepat waktu dan selalu bayar penuh bahkan jika telat kena denda. Keluhan demi keluhan dari masyarakat saat mati lampu nggak dihitung sebagai denda. Emosi meningkat karena iuran bengkak padahal di rumah cuma ada rice cooker, setrika, dan televisi saja, pihak berwenang malah adem ayem bahkan meminta untuk melunasi iuran tersebut. Giliran mati lampu 8 jam? 12 jam? Bahkan 24 jam? Kami ngadu ke mana?
Kamu yang bosan banget di kotamu yang terang-benderang, mampir deh ke Aceh. Dijamin hidupmu sejahtera banget karena tak ada hari tanpa mati lampu. Pokoknya Aceh itu akan mati lampu, kapanpun! Tinggal kamu siapkan mental saat hal ini terjadi, termasuk ngisi daya power bank sampai penuh.
Mati lampu telah jadi wisata paling menarik dan unik karena cuma di Aceh yang demikian eloknya. Mati lampu jadi keasyikan tersendiri karena kamu nggak bisangapa-ngapain selain nongkrong sambil menikmati malam kayak zaman prasejarah. Syukur-syukur jika kamu banyak teman. Kamu yang nggak punya banyak teman, tidur saja sehabis isya karena toh lampu itu megap-megap sampai nggak ketulungan.
Selanjutnya baca di sini >>> Wisata Mati Lampu di Aceh



