Barisan Muda Ummat (BMU) Pusat melalui para srikandi-srikandi yang tergabung dalam Wanita Peduli Ummat (WPU) Aceh Dan Malaysia kembali membangun rumah layak huni di Kabupaten Pidie.
Kali ini WPU Aceh membangun rumah untuk salah satu keluarga keturunan Hulubalang yang menempati rumah dari seng bekas di Gampong Sagoe Kecamatan Geulumpang Baro Kabupaten Pidie.
Hal ini disampaikan oleh Koordinator WPU Aceh Hj. Sabiqah Marhaban dan Nyak Jah Modis Beureuneuen seperti dikutip Humans BMU Pusat Al Fadhal melalui siaran Pers ke redaksi menyebut WPU Aceh bekerja sama dengan WPU Malaysia telah menyerahkan dokumen RAB dan Gambar kepada tukang sebagai tanda dimulainya pembangunan Rumah BMU-WPU 034 milik Teuku Saiful T M. Amin pada Kamis, (22/08/2019) pagi.
Sabiqah melanjutkan dana pembangunan rumah tersebut hasil dari patungan para wanita Aceh di dalam maupun diluar negeri melalui donasi BMU Peduli yang dibuka sejak 27 Juli – 02 Augustus 2019 selama 7 hari dengan total donasi yang masuk 37.027.500 Rupiah.
“Dalam waktu 7 hari WPU Aceh berhasil mengumpulkan donasi 17.527.500 Rupiah dari 120 donate, sedangkan WPU Malaysia dengan jumlah total 19.500.000 Rupiah dengan rincian 2.890 Ringgit Malaysia atau setara 9.500.000 plus 10 Juta dalam bentuk Rupiah,” kata Sabiqah yang juga putri Ulama Kharismatik Aceh Waled Marhaban Bakongan ini.
Kisah Hidup Generasi Hulubalang Saat Ini yang Tinggal di Rumah Seng Bekas Di Kabupaten Pidie
Terjepitnya ekonomi masyarakat Aceh saat ini tidak memandang taraf dan kedudukan, tak terkecuali kemiskinan juga terjadi pada kaum nigrat dan bangsawan, seperti yang dialamai Teuku Saiful T M. Amin (42) dan istrinya Jamilah (41) warga miskin Gampong Sagoe Kecamatan Geulumpang Baro Kabupaten Pidie, gelar bangsawan Aceh yang melekat pada diri saiful bukan berarti dirinya saudagar, beginilah kondisi masyarakat aceh saat ini yang terdegradasi sikap kepedulian sosial dalam tatanan kehidupan sehari-hari, tak terkecuali keturunan Para Hulubalang pun mengalaminya, belum lagi masyarakat biasa.
Di Jalan lintas Keumbang Tanjong-Sigli tepatnya Di Gampong Sagoe sebelah kanan Jalan dari arah Teupin Raya Terlihat pemandangan mencolok dan janggal hanya berjarak 2 meter dari pagar rumah yang begitu mewah dan klinik bersalin terpampang pemandangan ruang seng berwarna hitam mirip rumah latihan pelepasan Sandra militer, rupanya gubuk seng ini tempat tinggal keluarga Saiful.
Mereka selama 2 tahun belakangan tinggal dirumah yang terbuat dari seng bekas yang berukuran 2×4 M tanpa ada pemisahan/dekat ruang tidur dan dapur, tanpa aliran listrik, bila siang hari hawa panas dari radiasi sinar matahari sangat familiar dengan mereka, ibarat tinggal didalam oven roti dimana sinar ultraviolet membakar kiri kanan, depan belakang dan atap rumah yang seluruhnya berbahan seng bekas rumah ibunda mereka. Sebelumnya pasangan ini 4 tahun tinggal bersama ibunda Saiful.
Ditambah lagi penyakit asma yang dideritanya dari tahun 2005 membuat Saiful tidak bisa bekerja normal. Untuk memenuhi nafkah keluarga Saiful dalam kesehariannya hanya bekerja membuat Sangkar Burung (kandang) dijual dengan harga 50 ribu rupiah/unit, itupun hanya cukup buat membeli obat asma. Diakuinya dalam sehari hanya siap satu buah sangkar saja, lagipula yang laku tidak tiap hari.
Yang lebih parah lagi pasangan ini tidak tercatat dalam KK Gampong, dikarenakan Saiful dan istrinya masih terdaftar di KK almarhumah ibunya.
Jangankan untuk kegiatan lain mengurus KK saja Saiful tak berdaya.[]
Rilis oleh Al Fadhal Humas BMU Pusat




