LANGSA – Yayasan Geutanyoë menggelar pelatihan dan seminar untuk para nelayan Aceh yang menyelamatkan pengungsi Rohingya dan Bangladesh dari lautan Mediterania. Kegiatan tersebut dilakukan di Krueng Geukuh Aceh Utara, Julok, Aceh Timur, dan Telaga Tujoh Langsa, 2-7 April 2016. 

Direktur International Yayasan Geutanyoë, Lilianne Fan, mengatakan penyelamatan yang dilakukan para nelayan dari Aceh, membuktikan tindakan kemanusiaan merupakan suatu unsur utama adat Aceh yang bisa diaplikasikan secara efektif dalam menyelamatkan nyawa. “Ini harus menjadi contoh bagi ASEAN dan dunia internasional,” kata Lillian Fan.

Pelatihan dan seminar ini sekaligus memberi kesempatan kepada nelayan Aceh untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan mereka, dengan para ahli dari organisasi medis International Medecins Sans Frontieres.

Para nelayan juga diminta memaparkan tentang bagaimana mereka termotivasi memberi pertolongan kepada pengungsi yang terdampar di tengah lautan, dan sekaligus sebagai bentuk kewajiban yang tertera di dalam hukum adat laut Aceh (Hukom Adat Laot) yang telah berusia ratusan tahun.

Selama pelatihan dan seminar, para nelayan akan dibekali teknik tindakan penyelamatan di tengah laut yang berstandar internasional. Mereka juga dilatih untuk mengidentifikasi kapal-kapal yang sedang dalam kesusahan, sinyal-sinyal internasional yang digunakan untuk menggambarkan situasi darurat, metode komunikasi, tata cara penggunaan peralatan penyelamatan, cara melindungi diri sendiri, meningkatkan praktik-praktik keamanan dan kesehatan selama operasi penyelamatan.[](bna)