BANDA ACEH – Untuk memulai sebuah usaha, modal finansial saja belum cukup. Tetapi dibutuhkan semangat dan niat yang kuat. Kenyataannya, seseorang yang menjalankan usahanya sering kali mengalami pasang surut, tak jarang membuat pengusahanya malah down.

Agar tak terjebak pada situasi tak menguntungkan ini, bagi kamu yang baru coba-coba terjun ke dunia usaha tak ada salahnya membangun usaha yang berbasis komunitas. Maksudnya, kamu bisa bergabung di komunitas-komunitas wirausaha yang ada di daerahmu, sehingga kamu bisa terus mendapatkan ilmu-ilmu terbaru dan semangatmu dalam mengelola usaha bisa terus stabil.

Di Banda Aceh sendiri ada komunitas Yukbisnis Indonesia (Yubi) Aceh yang menjadi wadah tempat bernaungnya para pelaku usaha mikro. Sejak digagas empat tahun lalu oleh Jaya Setiabudi sebagai founder, Yubi memang dibangun untuk mengajarkan para UKM untuk 'naik kelas' dan lebih melek di dunia online atau internet marketing.

“Di Aceh sendiri Yubi baru berusia satu tahun. Di komunitas ini kita mengkombinasikan antara dunia offline dan online, karena keduanya tak dapat dipisahkan. Kita punya tagline Belajar, Praktek dan Berbagi,” kata ketua Yubi Aceh Gusti Supma, kepada portalsatu.com, Selasa, 9 Agustus 2016.

Di komunitas ini kata Gusti, banyak pengusaha-pengusaha Indonesia ikut berpartisipasi dan memberikan manfaat kepada pengusaha (pemula) lainnya. “Yukbisnis dibuat dengan visi menciptakan perekonomian mandiri yang berkeadilan sosial, membesarkan UKM dan bukan memanfaatkan UKM,” katanya.

Mengambil peran sebagai 'mentor', Yubi turut memfasilitasi para pelaku UKM agar bisa membuat toko online dengan mudah dan gratis di www.yukbisnis.com. Pelaku UKM yang bergabung di Yukbisnis nantinya akan mendapat personal web dengan tema sesuai pilihan dan opsi yang bisa dipromosikan di blanja.com.

“Bedanya dengan platform lain kita bisa membangun data base dan brand di sini, jadi tidak hanya menjual produk,” katanya lagi.

Meski usianya masih sangat muda, ada sekitar 10 relawan yang saat ini aktif di Yubi Aceh. Mereka inilah yang bekerja sebagai 'virus' untuk menularkan semangat berwirausaha kepada masyarakat lain. Para relawan tersebut masing-masing memiliki usaha yang berbeda, seperti mengelola kafe, menjual donat dengan bahan labu dan donat, usaha boneka, balon foil hingga selempang dan bisnis online. Menariknya, mayoritas mereka adalah anak-anak muda. “Rata-rata usianya berumur antara 20-30 tahun. Tapi insya Allah teman-teman auranya sangat positif dan tidak pernah pelit ilmu,” tambahnya.

Untuk bergabung di Yubi Aceh apakah harus punya usaha dulu? Kabar baiknya, kamu tak perlu punya usaha dulu agar bisa bergabung di komunitas yang bermarkas di Gerobak Cokelat di Jalan Prof. Muhammad Hasan ini. Siapa tahu setelah bergabung dan bertukar pikiran nanti ide bisnis akan datang sendiri.

“Potensi UKM di Aceh sangatlah bagus, banyak produk-produk UKM dari Aceh yang sudah merambah ke nasional dan internasional. Hanya saja teman-teman UKM belum terlalu mempadukan bisnis offline-nya ke online. Padahal membuka toko online tidaklah sesulit yang dibayangkan, asalkan ada kemauan ingin belajar,” kata Gusti.

Yubi Aceh juga aktif di berbagai kesempatan untuk terus mengampanyekan gerakan berwirausaha. Di antaranya roadshow 30 kota bertema “Buka Toko Online Langsung Laris” (BTOLL) yang menghadirkan Jaya Setiabuadi di Banda Aceh bersama pengusaha-pengusaha lainnya.

“Ke depan, kami dari Yubi Aceh akan terus melakukan edukasi kepada teman-teman UKM di Aceh khususnya untuk sama-sama belajar, agar lebih melek online sehingga bisnisnya bisa naik kelas dan semoga profitnya juga bisa bertambah,” katanya.

Mereka juga kerap menggandeng komunitas lain seperti Gam Inong Blogger, The Leader, komunitas social preneur, Aceh Bergerak, OIM Aceh dan Saudagar Muda Aceh. Tertarik bergabung di Yubi Aceh?[](ihn)