Sebagai Lembaga Pendidikan Islam yang menjalankan misi dakwah serta melahirkan kader ulama, dayah diharapkan memasukkan mata pelajaran menulis ke dalam kurikulum, sebagaimana muhadharah (pidato).
Hal tersebut disampaikan kandidat doktor Manajemen Pendidikan di Unimed (Universitas Negeri Medan), Zahraini Zainal, kepada portalsatu.com/, di Banda Aceh, Rabu, 1 Juli 2020.
“Saat ini, selain dakwah secara lisan, dakwah secara tulisan perlu ditempuh oleh ulama dan guru dayah. Apabila cedikiawan dari dayah berdakwah juga melalui karya tulis, niscaya akan menguatkan pondasi dakwah di Aceh,” kata Zahaini yang disertasinya tentang dayah.
Zahraini mengatakan, di zaman perang informasi melalui teknologi seperti sekarang, mengembangkan cara dakwah merupakan hal yang harus segera dilakukan. Hal itu untuk menguatkan posisi dayah sebagai lembaga pendidikan Islam yang utama bagi masyarakat Aceh yang merupakan sistem pendidikan warisan dari abad pertengahan.
“Selama ini, buku-buku tentang Islam yang ada di pasaran, termasuk yang menjadi bahan rujukan kampus tentang dayah, bukan tulisan ulama dari dayah. Mungkin akan ada warna baru apabila yang menulis tentang dayah adalah ulama dari dayah sendiri, selain para akademisi kampus. Berdakwah dengan karya tulis, biasanya akan bertahan lebih lama daripada melalui lisan semata. Misalnya, karya tulis ulama terdahulu seperti kitab karangan ulama Aceh, masih dapat dipelajari sampai kini,” kata Zahraini.[]


