TAKENGON – Di kalangan pecinta sastra, mungkin gadis ini tak asing lagi. Kiprahnya di dunia puisi telah ditekuni sejak kecil. Dialah Zuliana Ibrahim. Gadis yang dibesarkan di Tanoh Gayo, Gampong Nunang Antara, Bebesen, Aceh Tengah.
Gadis yang kerap disapa Ana itu telah banyak melahirkan puisi. Ia satu-satunya wanita Gayo yang kini giat menekuni dunia sastra. Baginya, puisi merupakan wadah di mana ia dapat menyampaikan aspirasi dan kritikan. Dengan puisi pula, ia telah dikenal di kalangan sastrawan dan komunitas pecinta puisi di Indonesia.
Dua belas goresan pena jemari tangan mungilnya telah dicantumkan dalam Antologi (Buku Kumpulan Puisi) ternama di Tanah Air. Karya puisinya “Secangkir Kopi” dengan penyair dari enam negara meliputi Thailand, Indonesia, Rusia, Malaysia, Denmark dan Taiwan, juga telah dimuat dalamnya.
“Puisi itu indah. Dunia puisi sudah saya tekuni sejak saya di bangku kelas lima SD,” kata gadis kelahiran 13 Juli 1990 itu kepada portalsatu.com di Takengon, belum lama ini.
Dengan puisi, anak ketiga dari pasangan Isnaini-Ibrahim itu juga telah banyak menoreh prestasi. Ia berhasil merebut juara II lomba baca pusi Dewan Kesenian Medan tahun 2011.
Tahun 2012, cerpen yang mengusung lokalitas tradisional Gayo tentang “Ketibung”, berhasil membawanya pada posisi satu lomba Cipta Cerpen Teater LKK UNIMET tingkat mahasiswa se-Sumatera Utara (Sumut). Tulisan gadis single itu juga kerap dimuat di beberapa media nasional dan media lokal ternama.
Kepada portalsatu.com Zuliana menceritakan kiprahnya dalam organisasi sastra di Sumatera Utara. Berawal saat mengeyam pendidikan strata I di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Medan, dan aktif di organisasi kesastraan, hingga akhirnya ia menyandang gelar sarjana tahun 2012 di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Meski telah lama meninggalkan provinsi tetangga, nama gadis itu hingga kini masih tersohor di organisasi kesastraan di Sumatera Utara. Saat ini, ia dipercaya sebagai Dewan Ahli di Komunitas Penulis Anak Kampus. Komunitas itu sendiri terdiri dari tujuh universitas di Medan meliputi Unimed, USU, UMSU, UISU, Nomensen, Mikroskil, dan IAIN Sumut.
Usai menyandang gelar sarjana kesastraan, Zuliana memutuskan kembali ke kampung halaman. Ia bertekad untuk mengembangkan seni baca puisi di tanah kelahirannya. Tekadnya mengembang dunia sastra terus digodok dari berbagai sudut. Ia mengaku dewasa ini dunia sastra juga kurang diminati kaum hawa di Tanoh Gayo.
Di sela-sela kegiatan melatih beberapa remaja tetangga peminat puisi, Zuliana juga kerap mengisi acara baca puisi di lembaga-lembaga swasta dan pemerintah.
“Selain tampil di beberapa undangan, kadang-kadang juga dipercaya jadi dewan juri dalam lomba baca puisi,” ujarnya seraya menebar senyuman.
Zuliana kini mengaku tengah menempuh pendidikan pascasarjana di Unsyiah Banda Aceh dengan pilihan jurusan yang sama yakni Bahasa dan Sastra Indonesia.
Kelak, gadis itu bermimpi akan menjadi pengarang puisi tersohor di jagat raya layaknya Sutarji Calzoum Bachri dengan julukannya Bapak Puisi Nasional.[](tyb)



