Senin, Juni 24, 2024

Dosen UBBG Lulus Seleksi...

BANDA ACEH - Tidak hanya mahasiswa, dosen UBBG juga berprestasi. Adakah Dr. Zahraini,...

34 Tim Futsal Berlaga...

SIGLI – Sebanyak 34 tim se-Aceh berlaga untuk memperebutkan gelar juara Piala Ketua...

All New Honda BeAT...

BANDA ACEH - Sehubungan dengan peluncuran All New Honda BeAT series terbaru oleh...

Kapolri Luncurkan Digitalisasi Perizinan...

JAKARTA - Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo meluncurkan sistem online single...
BerandaInspirasiTekno13 Kades Beli...

13 Kades Beli Dua HP Android Rp15 Juta Pakai Dana Desa, Camat Dapat Untung?

BLANGKEJEREN – Sebanyak 13 kepala desa (kades) di Kecamatan Rikit Gaib, Kabupaten Gayo Lues, dilaporkan membeli dua handphone (HP) Andorid jenis OPPO Reno 4 dengan harga Rp15 juta menggunakan dana desa tahun 2020.

Informasi diperoleh wartawan, selain pengadaan telepon seluler (ponsel) dengan dana desa, dana Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) di Kecamatan Rikit Gaib juga digunakan untuk membeli masker dengan harga Rp25 ribu per unit. Setiap Kepala Keluarga (KK) diberikan dua unit masker atau menghabiskan anggaran per KK Rp50 ribu dari dana BUMK.

Salah seorang kepala desa saat dikonfirmasi melalui telepon seluler, Jumat, 2 Oktober 2020, membenarkan informasi tersebut. Menurut kepala desa berinisial Ta itu, khusus pembelian HP bermula dari musyawarah 13 kepala desa, sehingga disepakati dan dicari orang yang bisa membeli smartphone yang sama.

“Setelah disepakati itu, kemudian Pak Camat Rikit Gaib yang berusaha mencari HP yang sama ke konter (toko tempat jual HP) depan Minimarket Sena Rebung. Dan untuk proses pembayaranya bagaimana, itu langsung bendahara, apakah dikumpulkan kepada Pak Camat dulu atau bayar langsung ke konter, sayapun tidak tanyak lagi,” kata Ta.

Ta menyebut pembelian HP itu tidak melanggar peraturan. “Itu ada dijelaskan di Permendes. Begitu juga dengan harga Rp15 juta per dua unit HP, itu sudah sesuai dengan standar harga pembelian barang elektronik di kabupaten. Dan kamipun sudah koordinasi dengan pendamping desa,” ujarnya.

Menurut Ta, kegunaan HP tersebut untuk laporan posyandu secara online dan masalah Covid-19.

Ta juga mengakui adanya pembelian masker dengan harga per unit Rp25 ribu. Namun, apakah pengadaan langsung dibeli oleh masing-masing BUMK atau diserahkan uangnya kepada camat dan camat yang membeli masker, Ta mengaku tidak mengetahui secara detail.

Edie Syahputra, Camat Rikit Gaib, mengatakan semua itu bermula pada Peraturan Menteri Desa (Permendes), sehingga saat ada rapat, kepala desa sepakat menyerahkan kepada camat untuk membeli HP dan masker.

“Untuk HP-nya benar memang 26 unit saya beli setelah ada kesepakatan dengan kepala desa, dengan harga Rp15 juta dua unit. Sedangkan saya beli Rp5 juta lebih satu unit. Kemudian untuk masker, jumlahnya sembilan ribu lebih, dengan harga Rp25 ribu per unit,” kata Edie Syahputra saat dikonfirmasi wartawan di Blangkejeren.

Camat Rikit Gaib itu mengaku, keuntungan yang diperoleh dari membeli masker itu tidak semua diambilnya, melainkan Rp1.500 per masker keuntungannya untuk kecamatan, dan Rp1.000 per masker untuk masing-masing kepala desa. Sedangkan untuk pajak Rp3.000 per masker dikembalilan ke desa.

“Sebelum membeli masker ini, sayapun sudah tanyak kepada pendamping desa, memang harga di Jawa Rp5 ribu sampai Rp10 ribu cuma satu masker. Namun jika ada masalah mencuat seperti ini, kita hanya gunakan Rp15 ribu saja per satu masker, karena kebanyakan BUMK tidak memiliki uang, yang digunakan sebagian uang pribadi, dan nanti diganti dari uang BUMK,” ujar Edie Syahputra.

Dia mengaku para kepala desa memberikan kepercayaan kepada dirinya terkait pembelian masker dan HP ini merupakan penghargaan kepala desa kepada dirinya. Sebab, selama menjabat sebagai Camat Rikit, dirinya tidak pernah meminta uang dari dana desa dan tak dikasih kepala desa untuk uang minyak.[]

Baca juga: