Oleh: Taufik Sentana*

Tradisi menghafal hadis adalah bagian dari tradisi pendidikan Islam secara formal. Tradisi ini juga bisa dikembangkan oleh setiap keluarga muslim. 

Di umumnya sekolah Islam/madrasah, banyak dikenalkan hadis hadis nabi SAW, tapi sangat minim langkah khusus untuk rutin dan fokus menghafalnya. Demikian juga di sebagian dayah, banyak yang fokus pada kajian ilmiah dan hukumnya. Tidak banyak konsen pada murni menghafal hadis, tanpa mengesampingkan pelajaran lain.

Penulis pernah bertanya kepada seorang  teman yang ustadz, tentang menghafal hadis dan Alquran. Tentu menghafal Alquran lebih utama. Namun, dalam.hadis juga banyak menjelaskan tentang apa yang dimaksud dalam Alquran. Artinya, menghafal hadis tidak boleh ditinggalkan sama sekali. Perlu ada tahapan dan prioritas sesuai tingkatan usia anak misalnya, atau maksud lain yang sesuai dengan konteks hadis.

Tentu manfaatnya tidak semata sebagai pengetahuan. Tapi juga sebagai perekat cinta kita kepada nabi dan sabdanya. Karena secara bahasa, hadis adalah apa yang diucapkan oleh nabi SAW, yang disebut lafaz nabawi, artinya hadis yang kita hafal itu sebagaimana diucapkan oleh Baginda berdasarkan sanad dari guru dan ulama kita.

Kita berharap agar cinta kita akan sabdanya ini menjadi penguat syafaat atas kita kelak, pembebas di mahsyar yang gaduh dan susah. 

Setidaknya para ulama telah merangkum beberapa kumpulan hadis yang menjadi pokok ajaran Islam. Diantara yang mashur adalah “Arbaiin An Nawawi”, abad 6 Hijriyah. Empat puluh hadis di kitab tersebut bisa menjadi pijakan awal dalam membangun tradisi menghafal hadis. Baik di sekolah ataupun di rumah.

Kegiatan ini dapat dilakukan di majelis sekolah dan rumah. Dibaca bersama, dikaji dan menjumpai guru serta mendengarkan penjelasannya lalu menghafal hadis tersebut secara bertahap. Yang nantinya, hadis yang dihafal itu mesti pula disimak, agar semakin berkah dalam mempelajarinya.[]

*Kelompok Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Aceh Barat.
Alumni pesantren Darul Arafah Medan, 1996.