LHOKSUKON – Seluas 1.400 hektare (Ha) sawah di Kecamatan Pirak Timu, Aceh Utara, dilanda kekeringan. Hingga saat ini di kecamatan tersebut belum ada saluran irigasi, sehingga petani hanya mengandalkan air hujan dan mesin pompanisasi untuk menggarap sawah.

“Di sini (Pirak Timu) terdapat 1.600 Ha sawah, 1.400 Ha di antaranya mengandalkan sistem tadah hujan, sedangkan sisa 200 Ha memakai mesin pompanisasi untuk mengairi air ke sawah. Saat ini, 1.400 Ha sawah tadah hujan dilanda kekeringan. Jika tidak segera teratasi, maka padi akan mati,” ujar Camat Pirak Timu, Ismuhar saat dihubungi portalsatu.com/, Sabtu, 17 Februari 2018.

Ismuhar menyebutkan, saat ini pihaknya telah mengupayakan mesin pompanisasi dari Dinas Pertanian Aceh Utara untuk Gampong Munje Tujoh dan Matang Keh.

“Tiga unit mesin pompanisasi dari dinas sudah dipinjam pakai untuk masyarakat Gampong Munje Tujoh. Rencananya sore nanti akan diturunkan tiga unit lainnya untuk Gampong Matang Keh. Itu pinjam pakai dari dinas. Sementara itu, Gampong Rayeuk Pange telah memiliki mesin pompanisasi pengadaan dari dana desa,” ucap Ismuhar.

Terkait tidak adanya irigasi di Kecamatan Pirak Timu, kata Ismuhar, akhir 2017 lalu Pemkab Aceh Utara telah mengusulkan ke Pemerintah Aceh untuk pembebasan lahan irigasi.

“Pemkab sudah usulkan ke provinsi mengenai pembebasan lahan untuk pembangunan irigasi di Pirak Timu, yaitu pengembangan jaringan dari irigasi Alue Ubay, Kecamatan Paya Bakong. Luas lahan yang perlu dibebaskan 24 Ha. Semoga Pemerintah Aceh dapat membantu agar persoalan kekeringan di Pirak Timu dapat teratasi,” pungkas Ismuhar.[]