ANKARA – Kemimpinan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKParti) di Turki yang dipimpin Presiden Recep Tayyip Erdogan telah berusia genap berusia 15 tahun pada Minggu, 14 Agustus 2015, hampir sebulan setelah selamat upaya kudeta.

Partai ini telah berkuasa setelah 15 bulan terbentuk dengan memenangkan lima pemilihan umum dan tiga jajak pendapat lokal sejak didirikan.

Selama 14 tahun berkuasa, partai telah berhasil menghadapi berbagai tantangan, mereformasi ekonomi dan upaya untuk bergabung dengan Uni Eropa.

Partai, yang mengadopsi lampu bersinar sebagai logonya, muncul dari ketidakstabilan politik dari akhir 1990-an dan kekacauan ekonomi tahun 2001, ketika inflasi berjalan pada lebih dari 50 persen, saham anjlok dan lira itu dalam terjun bebas.

Ketika memenangkan pemilu November 2002 dengan dua pertiga kursi parlemen itu menjadi partai pertama yang memenangkan mayoritas dalam 11 tahun.

Erdogan, yang telah terkenal sejak menjaba sebagai walikota Istanbul, akan menjadi perdana menteri tetapi dilarang dari jabatan publik karena pembacaan puisi pada tahun 1994 yang dianggap membela agama dan melawan hukum Turki saat itu yang melarang agama masuk politik.

Dia telah dipenjara selama empat bulan untuk pelanggaran sehingga salah satu pendiri partai, Abdullah Gul, diangkat sebagai perdana menteri, karena Erdogan masih dilarang sat itu sebab membaca puisi tersebut.

Erdogan kemudian, pada Maret 2003, mengambil alih ketika ia terpilih ke parlemen sebagai wakil untuk Siirt di Turki tenggara ketika pembatasan perannya dalam kehidupan politik berakhir.

Setelah itu tetap menjadi pemimpin partai dan perdana menteri sampai Agustus 2014, ketika ia menjadi presiden pertama yang terpilih melalui pemilu. 

Menteri Luar Negeri Ahmet Davutoglu menggantikannya sebagai ketua partai dan perdana menteri sampai ia mengundurkan diri pada bulan Mei untuk digantikan oleh Menteri Transportasi Binali Yildirim.

Selama waktunya sebagai perdana menteri, Erdogan mengawasi pemilihan umum pada tahun 2007 dan 2011 yang melihat partai kembali berkuasa dengan pangsa peningkatan suara setiap kali.

Keberhasilan Pemilu

Anadolu Agency mengabarkan, Partai ini juga memenangkan pemilu lokal pada tahun 2004, 2009 dan 2014, ketika diamankan 18 dari 30 kotamadya metropolitan.

Ketika Erdogan terpilih sebagai presiden pada akhir tahun itu  dengan suara di atas 52 persen suara dan Davutoglu resmi mengambil alih partai.

Pemilu Juni 2015 AKParti kembali mendapatkan suara terbesar di parlemen tetapi gagal mempertahankan mayoritas keseluruhan, mendapatkan 258 dari 550 kursi. 

Pembicaraan untuk membentuk koalisi menggelepar dan jajak pendapat cepat dibuat pada November dan AKParti pun kembali mendapat mayoritas 317 kursi.

Tahun-tahun awal pemerintahan mereformasi ekonomi dan mencoba untuk memperbaiki kerusakan keuangan disebabkan krisis pada tahun 2001.

Pemerintah Turki, di bawah AKParti mengekang inflasi dan utang luar negeri dan mengangkat kembali nilai Lira. Perubahan ini menyebabkan negara Turki tetap aman dan tidak terpengaruh sedikit pun saat terjadi krisis global pada tahun 2008.

Turki kini menjadi salah satu negara ekonomi kuat yang tergabung dalam G20 dengan pertumbuhan tercepat dan ekonomi terbesar ke-17 di dunia. 

Pada Mei 2013 Turki telah membayar utang yang diambil sejak 52-tahun sebelum itu pada Dana Moneter Internasional (IMF), dan pendapatan per kapita telah lebih dari dua kali lipat sejak tahun 2002.

Konstitusi kemudian memperluas perubahand dengan dua referendum pada piagam politik Turki.

Pada 2007 dibuat referendum untuk pemilihan presiden oleh rakyat (sebelumnya presiden ditetapkan oleh anggota parlemen di Majelis Agung Nasional) serta perubahan masa jabatan presiden dari tujuh tahun menjadi lima tahun dan mengurangi kesenjangan antara pemilihan umum dengan empat tahun .

Sebuah referendum kedua pada tahun 2010, manademen konstitusi supaya sejalan dengan standar Uni Eropa. Perubahan itu termasuk penghapusan Pasal 15, yang mencegah pengadilan sipil untuk perwira militer. Langkah ini membuka jalan untuk mengadili para pemimpin kudeta 1980.

Militer, yang secara tradisional memandang dirinya sebagai pengawal tradisi sekuler Turki, terbukti menjadi faktor lain yang berdiri di jalan reformasi.

Pereubahan dan kemajuan yang dicapai tersebut membuat rakyat Turki bersedia menggagalkan upaya kudeta yang terjadi pada 15 Juli 2016. Percobaan kudeta oleh pasukan pro-kudeta yang dibaut oleh pendukung Fetullah Gulen yang berbasis di AS, menewaskan 240 orang. 

Ketegangan antara Partai AK dan militer yang paling jelas pada bulan April 2007, ketika Gul berdiri untuk presiden. Setelah itu militer telah setuju dengan Parlemen.[]