Gulita di rimba, malam tidak bermata
Sayup-sayup suara dari tebing, pasukan itu mendekat, sejenak istirahat
Kita menghindari pertempuran yang tidak adil ini, tetapi
kita tidak akan lari darinya.
Kita menunggu kabar disiar
Bencana dari sisi emas Tugu Monas yang kita hadiahkan,
dari sisi kantor pesawat yang kita beli.
Malam dan hari, kita berjaga dan tidur berganti
Pagi tiba, gunung sunyi
Pesawat tempur menikung di angkasa
Dan hujan bom membelah hutan
Teriakan-teriakan kematian menggantikan kicau burung.
Peluru dan peledak menggantikan kembang api malam,
suaranya musik berdarah memamah tahun
Tubuh tubuh jatuh bertambah setiap fajar
Kita terkepung dan menghindar
Mereka memburu, kita bersembunyi.
Kita kalah jumlah dan senjata.
Sesekali, kita terpaksa membalasnya.
Rekan rekan pun syahid lagi.
Kehidupan orang-orang telah lama kita lupakan.
Esok, tidak ada lagi dalam rencana.
Perang yang terlalu lama telah memakan moral kita dan mereka.
Kapankah perang ini berakhir?
Air raya menjelma, musim perang pun berhenti,
disapu angin Helsinki.
Kita istirahat, tetapi hilang arah.
Apakah kita tidak ingat lagi
Mengarungi sungai darah, mendaki jenazah?
Kini, ada yang pada tahta
Namun, amanah menghilang bersama angin musim.
O, wahai jiwa-jiwa yang telah terkurbankan,
maafkan kami yang durhaka dari janji.[]
Thayeb Loh Angen,
Banda Aceh, 18 Mei 2019.




