BANDA ACEH – Sekitar 60 peserta magang bahasa Inggris dan bahasa Arab yang belajar di Kampung Inggris Pare, Kediri, pada sore pukul 05 WIB, Selasa, 18 Desember 2018 telah mendarat kembali di Banda Sultan Iskandar Muda.
Salah seorang peserta magang Bahasa Arab Tgk. Muhammad Azmir menyatakan bahwa para pelajar di Daurah Ocean bidang lughah Arab, di diwasiat oleh guru mereka selama belajar di Ocean supaya setiba di Aceh mengajarkan kembali ilmu-ilmu yang di dapat di Pare, baik dari materi maupun metode-metode.
"Insya Allah akan kami kembangkan kembali untuk mencerdaskan anak-anak bangsa sesuai dengan harapan dari Dinas Pendidikan Dayah Aceh yang telah mengutus kami secara ke seluruhan 60 orang baik yang dari bahasa Inggris maupun dari bahasa Arab," kata Tgk. Azmir kepada portalsatu.com/.
Tgk. Azmir berharap semoga dari ke 60-an orang termasuk dirinya sendiri yang telah di disiapkan oleh Dinas Pendidikan Dayah Aceh berharap ingin bagikan ilmu itu kepada puluhan, ratusan, dan bahkan ribuan santri maupun pelajar-pelajar lain. Sebagaimana yang telah mereka rasakan manisnya belajar bahasa Arab dan Inggris.
“Kami berencana akan tumbuhkan kesadaran kepada teman-teman kami di Aceh tentang betapa pentingnya belajar bahasa Arab dan Inggris.
Dan perlu di ketahui juga selama kami di Pare yaitu kampung inggris,” katanya.
Menceritakan tentang bagaimana motode belajar di sana, Tgk. Azmir mengatakan bahwa selama di bulan pertama di Pare pelajar dianjurkan menghapal 2000 mufradat, dan di bulan kedua 2000 mufradat untuk mendapat sertifikat. Dan bagi yang tidak menghapal tidak di kasih sertifikat hapalan.
“Berbeda dengan bulan ketiga kami tidak di anjurkan menghafal mufradat kalau hafal sehari-hari masih seperti biasa tapi di ganti dengan nadwah 'ilmiah (seminar) dan membuat muqabalah (wawancara) dengan daurah-daurah lain yang ada di Pare dan di bulan ketiga kami juga diajarkan 'amiah,” kata Tgk. Azmir.
Selama di Pare, ia bersama teman-teman juga sempat menghadiri acara perayaan maulid yang diadakan oleh persatuan rakyat Aceh di Pare untuk menyambung silaturrahmi.
“Saya pernah hadir langsung di acara maulid itu. Di sanalah kita dapat mengetahui bahwa sangat banyak siswa-siswi dan mahasiswa Aceh yang belajar di Pare, baik melalui beasiswa ataupun dengan uang mereka sendiri,” katanya.[]




