Selasa, Juni 25, 2024

HUT Ke-50, Pemkab Agara-Bulog...

KUTACANE - Momentum HUT Ke-50, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Tenggara bekerja sama dengan...

Pemilik Gading Gajah Super...

BLANGKEJEREN - Satreskrim Polres Kabupaten Gayo Lues berhasil mengungkap kasus kepemilikan dua gading...

YARA Minta Polisi Transparan...

ACEH UTARA - Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) mendesak kepolisian serius menangani kasus...

Capella Honda Mengajak Jurnalis...

SEBAGAI bentuk kontribusi dalam bidang lingkungan hidup PT Capella Dinamik Nusantara mengajak sejumlah...
BerandaBerita Aceh UtaraAbati Kuta Krueng...

Abati Kuta Krueng Khatib Idulfitri di Masjid Baiturrahim Lhoksukon, Ini Isi Khutbahnya

LHOKSUKON – Tgk. H. Tarmizi, S.Sos., akrab disapa Abati Kuta Krueng menjadi khatib salat Hari Raya Idulfitri 1444 Hijriah, di Masjid Agung Baiturrahim Lhoksukon, Aceh Utara, Sabtu, 22 April 2023.

Penjabat Bupati Aceh Utara, Azwardi, Sekda A. Murtala, para pejabat unsur Forkopimda, Kepala SKPK, para Camat, turut menjadi jemaah salat Id itu bersama unsur ulama dan tokoh masyarakat setempat. Salat itu dipimpin Imam Besar Masjid Agung Baiturrahim Lhoksukon, Tgk. H. Jamaluddin Ismail (Walidi).

Abati Kuta Krueng yang merupakan Pimpinan Dayah Anwarul Munawwarah Kabupaten Pidie Jaya menyampaikan tiga hal penting dipraktikkan dalam perayaan Hari Raya Idulfitri, karena erat kaitannya dengan ubudiyah orang beriman kepada Allah SWT. Ketiga hal tersebut didasari pada hadis Rasulullah SAW yang kejadiannya pada saat beliau hendak menyampaikan khutbah di hadapan umat.

“Kita harus menjaga dan menyayangi orang tua kita. Begitu besar jasa orang tua kita, terutama ibu dari mengandung dulunya sampai kita sudah besar. Bahkan kita sudah tua saat ini,” kata Abati dalam khutbahnya.

Abati juga memaparkan sebuah kisah saat Baginda Nabi membaca “amin” tiga kali ketika menaiki mimbar khutbah. Malaikat Jibril berdoa, ada tiga bait doanya yang diamini oleh Rasul.

Pertama, “Ya Allah, tidaklah Allah terima amalan orang-orang yang durhaka kepada orang tuanya, dan tidak meminta maaf kepada orang tuanya”. Rasul menjawab “amin”. Kedua, “Ya Allah, janganlah engkau terima ibadah orang-orang yang menyakiti atau durhaka kepada suaminya, dan tidak meminta maaf kepada suaminya”. Rasul menjawab “amin”. Ketiga, “Ya Allah, janganlah engkau terima doa orang-orang yang tidak mau memberikan maaf kepada saudara-saudaranya yang muslim dan muslimah”. Rasul menjawab “amin”.

“Maka di hari fitrah ini. Mari wahai saudaraku, untuk bersama-sama meminta maaf kepada orang tua kita. Suami atau istri kita serta sesama kita. Ketika pintu maaf terbuka dan dimaafkan oleh orang tua kita, suami istri kita serta saudara-saudara seiman, insya Allah kita menjadi orang-orang yang diampuni dosa,” ungkap Abati Kuta Krueng.

“Orang tua kita adalah lahan kita untuk beribadah. Rumah kita, suami istri itu juga tempat kita mendapat banyak pahala. Begitu juga kita bersilaturahmi sesama kita. Itu juga lahan tempat mengumpulkan banyak pahala. Semoga di hari fitrah ini menjadi momentum memelihara ibadah, dan saling kita memaafkan,” ujar Abati.

“Jangan pernah engkau berkata ‘ah’ kepada ibu dan bapakmu, berkatalah dengan kata yang mulia kepada kedua orangtuamu. Allah SWT melarang kata-kata dan kalimat yang tidak menyenangkan hati orang tuamu,” tuturnya.[](rilis)

Baca juga: