BANDA ACEH – Pengajian Tauhid, Tasauf, dan Fiqih, pengajian rutin tiap malam Sabtu yang dipimpin oleh Abu Syekh H. Hasanoel Bashri HG, di Mesjid Raya Baiturrahan Banda Aceh, Jumat malam 3 Agustus 2018, kali ini tentang kurban.

“Sabda nabi SAW, yakni tiada dua dikerjakan oleh anak adam daripada suatu amal pada hari raya yang terlebih digemari Allah SWT daripada menumpahkan darah yakni menyembelih kurban, dan bahwasanya kurban itu lagi akan datang dia pada hari kiamat dengan sekalian tanduknya, dan kuku kakinya, dan bahwasanya darahnya jatuh ia daripada Allah SWT pada suatu tempat kemuliaan dahulu daripada ia jatuh ke bumi, maka sukakanlah diri kamu dengan kurban itu,” kata Abu membacakan satu hadits tentang kurban.

Meskipun di hari raya sangat banyak amalan yang disunatkan seperti silaturrahmi, salat hari raya, dan sebaginya, Abu Mudi mengatakan yang paling utama adalah berkurban.

“Binatang yang tasie kureubeuen nyan, Allah akan bangkitkan binatang nyan singeh uroe kiamat, dengon nyan geuyu peurayek kureubeuen,” kata Abu Mudi.

Menyinggung soal hewan bagaimana yang baik untuk kurban, Abu Mudi menyarankan ketika memilih lembu, kambing, kerbau, dan biri-biri yang akan dikurbankan kita harus memilih yang terbaik atau tidak cacat.

Abu Mudi juga sempat menyinggung tentang kekeliruan yang berkembang dalam masyarakat perihal cara menafsirkan kata ‘hewan terbaik’ dan bagaimana cara memperlakukannya.

“Mantong berlaku lam gampong, binatang kureubeuen geuseumanoe dilee, lheuh kasep iklik kameng, lheuhnyan geuboh budak, minyeuk wangi, geutop ngen ija puteh, pubreueh pade,” canda Abu Mudi.

Perkara kurban adalah utama karena di hari kiamat kurban yang disebelih itu akan dibangkitkan untuk menjadi tunggangan ketika melewati titi Shirathal Mustaqim. []