SOSOK Abu Teupin Raya yang bernama Muhammad Ali Irsyad, yang semasa hidupnya juga dikenal dengan sebutan Abu Lampoh Pala selain sebagai ulama kharismatik, juga diakui memiliki banyak kemuliaan (karamah). Ia juga gigih mengembangkan pendidikan dan dakwah Islam melalui pembangunan dayah-dayah di seluruh Aceh di bawah Yayasan Pendidikan Islam Daruss'adah.

Sebelumnya telah kita bahas bahwa Abu Teupin Raya juga dikenal sebagai pakar dalam Ilmu Falaq yang keahliannya diakui bukan saja di Aceh tetapi juga oleh dunia Islam. Selain itu beliau juga adalah seorang penemu, Kalender Hijriyah Sepanjang Masa yang dibuat dalam bentuk yang praktis, mudah digunakan serta dapat dibawa-bawa karena bentuknya yang kecil telah disahkan dan diakui oleh Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir tempat beliau menimba ilmu sebelumnya.

Perhatian yang mendalam dan sikap keingintahuan yang tinggi yang dimilikinya membuat ia berada setingkat lebih tinggi dari kemampuann rata-rata yang dimiliki kawan-kawan seperjuangannya. Gurunya Teungku Abdul Madjid telah mengangkatnya menjadi asisten atau teungku rangkang ketika berada di Uteuen Bayu Ulee Glee, Pidie Jaya, Aceh.

Selanjutnyam ketika Teungku Muhammad Ali Irsyad berada di Gandapura (Geurugok), di samping belajar, beliau juga mengajar. Di sana beliau mengarang kitab Ilmu Nahwu dan Sharaf. Beliau mempunyai satu ide yaitu untuk menghilangkan citra yang terjadi pada waktu itu bahwa orang yang belajar Nahwu itu akan gila, dalam istilah orang Aceh pungoe Nahwu. Padahal bukan gilanya, tetapi sistem belajar Ilmu Nahwu yang sudah diterapkan awalnya sangat sulit dicerna oleh murid-murid yang bukan berasal dari Arab.

Pada saat beliau berada di Mesir, dengan mengambil konsentari Ilmu Falak, menambah sebutan di depan namanya dengan gelar Al-Falaqy yaitu sebuah gelar yang menunjukkan keahlian dalam Ilmu Falak. Kemahiran dan keahliannya dalam ilmu ini membuat ia dikenal tidak saja di dalam negeri khususnya di Aceh, akan tetapi juga di almamaternya Kairo. Bahkan Beliau telah menyusun sebuah kalender sepanjang masa sebagai pedoman dalam menentukan waktu salat dan berbuka puasa serta waktu imsaknya.

Karya Abu Teupin Raya

Selain itu beliau juga seorang pemikir, penulis dan kaligrafer yang produktif. Sampai akhir hayatnya beliau telah menulis 28 judul kitab karangan yang terdiri 39 jilid buku. Yang berkisar dari ilmu pelajaran Bahasa Arab, Logika, Filsafat, Fikih, Falak, Tafsir, Terjemahan dan Sejarah Islam. Buku-buku tersebut dijadikan buku pelajaran bagi santri, mubaligh, ilmuwan bahkan jadi buku pegangan bagi para pengajar di Ar-Raniry bahkan juga di Al-Azhar Kairo.

Tidak heran dikatakan bahwa Abu Teupin Raya laksana mutiara yang yang telah meninggalkan harta karun berupa ilmu pengetahuan baik agama dan umum bagi masyarakat Aceh. Sang mercuar ilmu beliau diteruskan di bawah panji Daruss’adah yang kini menyebar dan disegani di seluruh timur dan tengah tanah Aceh, serta buku-buku yang kesemuanya ditulis tangan dalam bahasa Melayu dan Arab.

Teungku Muhammad Ali Irsyad termasuk di antara ulama yang kreatif dalam mengembangkan dakwah ilmiah di Aceh. Baik itu melalui jalur pendidikan maupun penulisan, ia telah melahirkan sejumlah karya tulis yang dapat dijadikan pegangan dalam menjalankan syariat Islam. Berdasarkan data yang diperoleh di Dayah Darussa’adah, sampai akhir hayatnya Teungku Muhammad Ali Irsyad telah merampungkan sebanyak 28 karya tulis dalam beberapa bidang ilmu, baik dalam bahasa Aceh, bahasa Gayo, maupun bahasa Arab.

Karya-karya yang dikarang oleh Teungku Muhammad Ali Irsyad di antaranya Awaluddin Ma’rifatullah (tauhid), Al-Qaidah (nahwu), Taqwimu Al-Hijri (ilmu falak) dan Ad-Da’watul wahabiyah (Gerakan Dakwah Wahabi) Nazam Al-Qur'an (Terjemahan Alquran dalam bahasa Aceh) dan masih banyak lainnya.[]

Dihimpun dari berbagai sumber