Abusyiek
Setelah sekian lama berjuang
Bahkan dianggap oleh seteru politik
Sosok tanpa kekuatan yang meugiwang
Untuk meraih mahkota
Abusyiek
Saat sulitnya berjuang
Saat tersembunyi dalam relung ketidakpastian politik
Bahkan boikot turut menghiasi
Saat terhalang oleh tabir ketidakadilan
Saat terbelenggu adanya kisah pahitnya sandiwara politik
Terdampar dalam kesan adanya dewa material
Abusyiek hadir
Abusyiek
Teka teki politik
Akhirnya terjawab siapa sang pemimpin
Lewat tuah peci merah sang panglima
Lewat Pidie meusigrak
Abusyiek
Para cucumu kini mengantung harapan
Pidie meusigrak dalam realita
Bukan dalam ilusi dan retorika
Bahkan berharap secercah asa itu
Wujud nan lahir dalam peci merah itu
Abusyiek
Kini dirimu sosok sang pemimpin Pedir
Negeri kunci tanah aulia
Kini rakyat kecil rindu tangan lembutmu
Yang akan membelai negeri ini menjadi sejahtera
Kini cucumu rindu tangan dingin Abusyiek
Yang akan menyulap pendidikan menjadi prestasi
Abusyiek
Kemegahan bukit Jabal Ghafur
Kini tinggal jejak tanpa bekas
Jabal Ghafur seperti negeri tanpa tuan
Puluhan tahun seperti hidup tidak, mati segan
Bahkan Al-Hilal juga hampir senasib
Dua sang mercuar ini, hendak dibawa kemana?
Akankah lahirnya pelita baru?
Atau semakin redup nan kelam
Pidie meusigrak ada solusinya
Abusyiek
Para pejabat dan rakyat rindu tangan tegasmu
Yang akan membimbing ke arah lebih baik
Para ulama rindu tangan muliamu
Yang akan mengerahkan akhlak menjadi teladan
Abusyiek
Semua rindu tangan optimism
Meyakinkan negeri pada kemajuan
Menuju baldatun tayyibatun warabbul ghafur
Kita berharap dan berdoa
Semoga Pidie meusigrak mampu mewujudkannya
Amiin.[]
Helmi Abu Bakar el-Langkawi
Masyarakat perantau kelahiran Pidie
5 Dzulqadah 1438







