BANDA ACEH – Dosen UIN Ar-Raniry, Fuad Mardhatillah, melihat Aceh sedang mengalami krisis epistimologi. “Kita Islam gagal merumuskan Islam dan agama Islam sehingga terjebak dalam dikotomi dunia dan akhirat,” ungkapnya dalam paparan di Abu Master Kupi, Banda Aceh, awal Januari 2019.

Fuad menjadi salah satu peserta dalam diskusi “Aceh 2018: Makin Gelap dan Sempit?” Catatan Akhir Tahun 2018 “Poros Darussalam”.

Padahal, Fuad melanjutkan, dunia dan akhirat itu satu kesatuan. “Kita mendefinisikan Islam dengan problem tauhid, fikih dan lain, yang berkenaan dalam hubungan kita dengan Allah.”

“Kita wajib melihat lebih komplit, misalnya statistik bahwa dunia itu bulat. Dan tuhan meminta kita mempelajarinya. Dunia harus dilihat dalam satu korelasi. Saling berhubungan yang satu sama lain, tentu saja tidak boleh saling arogan,” jelas dosen senior ini.

Menurutnya, yang terjadi sekarang arogansi epistimologi yang melihat secara dikotomi. Sehingga terjadi dunia yang kacau balau ini. Saling menuding, saling menyalahkan.

“Bagaimana keilmuan dan berpikir lintas disiplin dan lintas perspektif, sehingga Islam terlihat sebagai rahmatan lil alamin. Semua perilaku kita bermuara ke situ,” ujar lulusan Mc Gill Univeritas Kanada ini.

Menurut peneliti Aceh Institut ini, Islam rahmatan lil alamin konteksnya pluralitas (keberbedaan). Oleh karenanya perbedaan tidak boleh melahirkan permusuhan. “Nah, hari ini kita tidak selesai merumuskan pola pikir kita untuk hal itu”.

“Kemudian tugas selanjutnya membangun kebersamaan dengan semua perbedaan yang ada. Bukan saling menabrakkan. Apakah ilmu, agama menjadi satu kesatuan yang positif? Jangan karena perbedaan, melahirkan pertikaian yang tidak menyelesaikan apapun persoalan kita. Malah menambah. Kita semakin hari, semakin gelap, semakin sempit dan semakin miskin. Cara berpikir miskin, jiwa miskin, harta lebih miskin lagi,” tuturnya panjang lebar.

Jadi, kata Fuad, pertanyaannya selanjutnya mana yang rahmatan lil alamin itu? Bukan hanya persoalan kaya. Namun bagaiamana semua perbedaan menjadi harmoni dan melahirkan kedamaian.

“Kerena itu kita wajib bertanggung jawab untuk saling berhubungan satu sama lain secara baik. Kita seperti kepingan mata uang logam. Yaitu makhluk individual dan makhluk sosial. Maka saling melengkapi. Jangan yang tampak satu sisi yaitu sisi individualnya,” pintanya.

Dalam diskusi itu, Fuad juga mengkritik perilaku elite hari ini. “Bangunan pikiran kita seharusnya melihat keberagaman sebagai hakikat. Jadi, jangan sampai kita sesat pikir”.

“Bila melihat perbedaan sebagai ancaman eksistensi kita maka ini sesat pikir. Dan inilah yang kemudian Aceh begini. Darurat pikir ini harus kita tinggalkan. Persoalannya bagaimana semua rangkaian artikel naratif tersusun dalam kalimat yang saling menjelaskan dan bersifat kausalitas dan sistematis,” katanya.

Intinya, kata Fuad, dunia dan akhirat harus dilihat dalam satu bangunan epistemologi yang multidisiplin. Suatu rangkaian hubungan kausalitas yang saling memberi pengaruh langsung atau tidak langsung. Semuanya memiliki peran masing-masing. Sehingga lahir kerja sama teoritis dan keilmuan yang melahirkan kerja-kerja yang merahmati satu sama lain.

“Semua kebaikan yang merahmati itulah persoalan agama, yang tak lagi dipahami secara dikhotomik, dunia-akhirat yang seolah terpisah”.

Fuad memberi contoh kemajuan teknologi. Bahwa teknologi menjadi bangunan utuh memajukan agama. Selama teknologi itu bukan yang merusak lingkungan, tapi menjadi hal yang memfasilitasi kemudahan menjalankan ibadah.

“Semua pencapaian pengetahuan sesungguhnya adalah pengabdian-pengabdian yang bersifat horizontal dengan sesama manusia dan habitatnya. Dan hubungan vertikal yang membangun kemesraan dialogis antara Sang Pencipta dengan yang diciptakan,” ujar Fuad Mardhatillah.[]