Oleh: Taufik Sentana*
Seperti awal ulasan sebelumnya, kebudayaan baru yang dimaksud adalah budaya massa yang berbasis media, iklan, trend dan cita rasa popular serta instan. Ia lantas menjadi realitas baru dalam ambang sadar masyarakat/konsumer(isme). Dikenal kemudian dengan sebutan budaya pop: gambaran dan persepsi yang dibentuk oleh mekanisme pasar, komoditas dan ideologi industi.
Dari sini, budaya pop membangun realitasnya yang semu, berdasarkan persepsi persepsi, iklan dan gaya hidup lalu menjadi trend/kecenderungan/kelatahan massal. Hingga terbentuklah segmen konsumen yang beragam, melampaui jarak dengan tingkat konsumtif yang berbeda beda.
Ia menjadi “kebudayaan baru” yang melebar, menjamah setiap ruang gerak, yang mengubah pola interaksi dan tatagaul kita keseharian. Derasnya perkembangan arus informasi dan digitalisasi semakin membangun kenyataan tertentu di alam bawah sadar masyarakat, antara kebutuhan, keperluan, kepentingan, kesenangan dan gaya hidup. Yang dapat berujung pada kerumitan dalam mengambil keputusan, baik di tingkat kolektif, pemerintah ataupun pribadi.
Demikianlah, maka jamak kita jumpai pergeseran pola dan gaya hidup orang orang terdekat kita, utama yang dekat dengan arus kekuasaan dan media/televisi/lainnya. Sama halnya dengan dilema anak muda kita yang berada di persimpangan nilai (paham) hidup global, berbasis korea, barat atau eropa, sedang kaki dan tanah kehidupannya di Aceh/Indonesia.
Mari pula kita melongok, menolehkan pandang ke dunia hiburan, tontotan, musik, rekaman, komedian: manakah yang benar benar membawa ruh keaslian dan pelestarian, serta daya ubah kebudayaan yang menopang kebangkitan Aceh?.
Atau jangan jangan, semua yang tampak hanyalah pelarian dari ketidakberdayaan masyarakat (faktor kepemimpinan) dalam pemulihan pasca konflik panjang.
Yang muncul dan terasa kemudian, lewat tayangan iklan dan hiburan hiburan adalah, kegembiraan dan kesenangan sesaat yang semu. Setelah jeda acara acara massa, dan banjir media sosial itu, kita akan berkubang dalam realitas kita yang asli, kehidupan yang rumit, penyakit sosial, dan sistem sosial kita yang saling himpit.[]
*Peminat studi budaya pop.
Diadaptasi dari Koran Harian Aceh, 2012, Aceh dalam Arus Budaya Pop. Dua dari tiga tulisan.



