Oleh: Taufik Sentana*
Pada bagian kedua disebutkan bahwa arus kebudayaan baru itu merambah dalam bentuknya yang digemari secara massal. Baik fasion, makanan dan hiburan, bahkan pendidikan dan politik.
Diantara gelombang yang mendorong laju itu adalah watak modernitas, yang berujung pada frame kepentingan industri dan kapitalisasi, serta hegemoni global oleh negara superior.
Ia kemudian menjadi paradigma industri skala umum, sekarang sering ditengarai dengan Start Up dan industri kreatif/industri yang bertumpu pada jasa dan skill.
Paradigma ini merambah ke setiap sektor. Termasuk pendidikan sekolah, masyarakat penerima layanan pendidikan sering dianggap “pasar”, program program sekolah bagai komodinas yang dibentuk, kini sekolah juga menentukan level sosial. Kalimat “in put dan out put” yang sering dikhaskan oleh sekolah adalah kalimat “industri”.
Sejalan dengan itu, capaian umum keberhasilan si pelajar nantinya (orientasi kerja) adalah tatkala ia dapat menjadi SDM yang siap “pakai” di arena industri, berdaya saing, dan sejenisnya.
Tadi disebutkan, modernitas menghidupkan paradigma industri yang digeliatkan oleh perkembangan teknologi dan informasi. Mata pisau modernitas yang paling tajam adalah nilai nilai global yang tumbuh subur menjadi gaya hidup baru, batasan kota dan desa (hampir) tidak ada lagi, karena semua sudah saling terhubung.
Disini kita tidak ingin menjadikan modernitas sebagai terdakwa, hanya saja kita seakan masih gamang dengan laju modernitas tersebut, sama halnya dengan perubahan sosial yang terus bergulir mengikuti arus umum (modernitas dan trend tadi).
Yang muncul kemudian adalah (bayaran negatifnya) berupa penyakit sosial baru, keterasingan, sikap abai, individual dan materialisme. Sebab, tentu, modern lebih cenderung pada capaian ragawi, insfrasruktur, bangunan megah dan semacamnya.
Dalam kaitan ini, segenap elemen kebudayan Aceh/Indonesia, perlu meredefenisikan kembali apa itu Kebudayaan Aceh?. Lalu merancang semacam siasat kebudayaan dengan memungsikan peranata yang ada sambil mengimbangi/menyeleksi unsur unsur kebudayan kekinian berbasis teknologi informasi.
Sangat kecil memang, kemampuan kita untuk membendung arus deras modernitas dengan segala perangkap budayanya. Karena ianya muncul dari superioritas kebudayaan tertentu yang lacur diikuti oleh masyarakat secara alam bawah sadar. Sedang kitapun seakan abai untuk menguatkan kembali akar kebudayaan sendiri: atau ini bentuk kegagalan kita dalam menanamkan nilai nilai kita ke dalam “bawah sadar” generasi kini.[]
*Peminat studi budaya pop.
Diadaptasi ulang dari koran Harian Aceh, 2012, Aceh dalam Arus Budaya Pop. Bagian akhir dari tiga tulisan.





