Keruntuhan sejarah kegemilangan Aceh pada abad 18 diawali dengan adanya ambisi dari Belanda yang ingin menguasai tanah Aceh dan menghancurkan kesultanannya. Meskipun pada masa itu ada upaya-upaya pertahanan yang dilakukan oleh para pembesar Aceh, namun Belanda yang telah beratus tahun punya program dan persiapan yang matang kemudian Aceh pun berhasil dihancurkan secara disiplin.
Sebelum penyerangan itu menurut kajian Ibrahim Alfian pada tanggal pada tanggal 10 Maret 1873 Sayyid Abdullah bin Saifuddin di mesjid Baiturrahim kepada Tuanku Hasyim Qadir Syah menyumbangkan emas-emas untuk dana perang melawan penyerangan yang akan dilakukan Belanda. Iskandar Norman mengatakan yang diserahkan pada waktu itu berupa 16 kilogram emas dan 4.700 riyal pada penyerahan kali itu juga diserahkan sekitar 75 bungkal emas dan uang tunai sebanyak 1700 riyal disaksikan oleh menteri kehakiman (mizan) Bangta Geuchiek, Tuanku Mahmud Syah bin Tuanku Qadir Syah Johan berdaulat. Hadir juga Teungku Imum Lueng Bata, Teungku Haji Abdurrahim, Teungku Abdul Malik Lam Jamee, Teungku Nyak Syuib, Muhammad Ali, Nyak Ahmad Pungee, Nyak Ibrahim, Iskandar Ali, dan lainnya.
Setelah runtuh, Aceh Darussalam mengalami kehilangan tokoh-tokoh penting, menderita kekurangan dana perang, hubungan diplomatik luar negeri terbatas, dan generasi yang lahir sesudah itu dalam tatapan sejarah mereka menjadi kabur, identitas ke-Acehan yang terus menerus ditekan oleh Belanda.
Sampai hari ini pun masyarakat Aceh bila ingin mereka-reka bagaimana bentuk kejayaan masa lalu sangat sedikit bukti fisik sejarah yang bisa dilihat. Yang tinggal sekarang adalah banyak sejarah hasil campur tangan bekas-bekas campur tangan Belanda seperti rumah-rumah Belanda termasuk pendopo gubernur, Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh yang direnovasi Belanda, Mesjid Baiturrahim, makam Kerkhoff yang indah di Banda Aceh, dan lain-lain.
Dengan sebab itu masyarakat Aceh dan pemerintah harus bertanggung jawab terhadap seluruh yang berkaitan sejarah, budaya, politik, hingga ketika kelak orang menyebut Aceh maka langsung terbayang bahwa itu adalah Aceh yang masyarakatnya taat beragama dan berperadaban tinggi.
Salah satu langkah pemulihan kebutaan terhadap sejarah Aceh bagi generasi Aceh adalah dalam kurikulum pelajaran di sekolah mulai dari Sekolah dasar sederajat sampai ke perguruan tinggi mulai sekarang Pemerintah Aceh harus mencanangkan program mata pelajaran sejarah Aceh Darussalam. Sejarah itu harus ditulis oleh para peneliti sejarah, artefak, manuskrib dan nisan Aceh.
Cara lainnya upaya penyelamatan sejarah bisa juga dengan audio visual yang mudah dicerna oleh berbagai lapisan masyarakat yaitu film dokumenter.
Menyuplai kebanggaan terhadap mencintai sejarah kepada generasi muda Aceh sangat mudah dilakukan lewat visualisasi dan reka gerak. Dalam hal ini Aceh bisa belajar dari Turki yang telah sukses mengorbit film Ertugrul, dan Payitaht Abdulhamid. Hingga kini pun film-film sejarah Turki itu di sukai di berbagai belahan dunia bahkan Moduro dari Venezuela telah menjadi penggemar berat Film Ertugrul.
Hal yang sama juga terjadi pada Film Payitaht Abdul Hamid setelah beredar mendapat respon yang positif dari masyarakat dunia.
The Washington Post tentang Film Payitaht Abdul Hamid, pernah menulis 'berbagai aktor dalam kancah politik Turki tampaknya secara tegas mendukung pesan yang ada dalam pertunjukan tersebut'.
Di Turki, pertunjukan itu telah mendapat persetujuan dari seorang keturunan Abdulhamid, yang mengatakan “sejarah berulang dengan sendirinya ..orang asing yang campur aduk ini sekarang menyebut presiden kita (Erdogan) seorang diktator, sama seperti mereka menyebut Abdulhamid sebagai 'Sultan Merah'”.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan juga memuji penggambaran pertunjukan hanya dua hari sebelum referendum, mengatakan “skema yang sama dilakukan hari ini dengan cara yang persis sama. Apa yang dilakukan Barat kepada kita adalah sama. Hanya masa dan aktornya saja berbeda “.
Wakil Perdana Menteri Numan Kurtulmus juga memuji pertunjukan itu karena “menjelaskan” kehidupan Sultan Abdulhamid dengan “cara yang obyektif”, dan berkunjung secara pribadi ke lokasi syuting.
Aykan Erdemir dan Oren Kessler, menulis untuk Washington Times, mencatat bahwa Sultan Abdulhamid sering menggunakan slogan-slogan yang diilhami oleh Alquran yang sama seperti Presiden Erdogan, terutama termasuk “Jika mereka punya rencana, Tuhan juga punya rencana!”.
Kembali pada sejarah Aceh, dalam hal ini di Aceh hingga saat ini satu-satunya film sejarah Aceh yang memenuhi syarat adalah film Cut Nyak Dhien garapan Eros Djarot. Namun, salah seorang sutradara asal Malaysia Mansor Puteh berharap ke depan para Sineas Aceh bisa mandiri buat sendiri film dokumen sejarahnya.
Di zaman di mana masyarakat Aceh masih memiliki minat yang rendah terhadap menikmati bacaan lembar-lembar catatan sejarah segala model cara memperkenalkannya bisa juga dilakukan dalam bentuk peragaan langsung seperti yang telah dilakukan oleh Muhammad Yusuf Bombang atau sering disapa Apa Kaoy yang telah melahirkan karya Teaternya dengan tema The Spirit of Aceh Hikayat Prang Sabi.
Pengenalan dengan cara visual akan mudah direkam oleh masyarakat karena manusia akan dengan sangat mudah merekam sesuatu perjalanan hidup jika itu sesuatu yang dialami sendiri, dilihat langsung dalam kehidupannya.
Sejarah adalah sebuah catatan yang lahir dari ingatan waktu yang telah berlalu. Bangsa yang bermartabat mereka akan merancang sendiri sejarah masa depannya sesuai dengan adat dan budaya. Mereka hidup dalam rancangan bukan terjebak dalam program orang lain. Terkait dengan cara penyelamatan sejarah ini Turki bisa menjadi contoh sebagai sebuah negara yang merancang yang merancang sendiri sejarahnya, mereka merancang sendiri sejarah masa depannya dengan persiapan Turki 2023.[]
Penulis adalah peminat sejarah hubungan Aceh dengan Turki.







