Buletin Pahlawan juga diterbitkan untuk membangkitkan semangat perjuangan rakyat Aceh dalam melawan upaya-upaya Belanda yang ingin masuk kembali ke Aceh. Setiap hari ada saja pertempuran dengan Belanda di daerah-daerah perbatasan Aceh dengan Sumatera Timur.

Pada saat itu Belanda yang ingan masuk ke Aceh melakukan provokasi di laut dan udara. Dua hari sebelumnya pada 2 Januari 1947, Belanda melakukan provokasi di udara Aceh, 4 pesawat tempur Belanda terbang rendah di Banda Aceh, sampai di Sigli, Pidie pesawat tempur Belanda tersebut menembak rudal dengan tommygun ke arah sebuah bengkel namun tidak mengenai sasaran.

Belanda menduga bengkel di kota sigli itu sebagai gudang dan pabrik senjata pejuang Aceh, tapi setelah dihalau dengan tembakan meriam Penangkis Serangan Udara (PSU) oleh pejuang Aceh, pesawat-pesawat Belanda itu melarikan diri ke arah utara.

Lebih jelas tentang peristiwa itu bisa diaca dalam buku Modal Perjuangan Kemerdekaan (1947-1948) yang ditulis oleh sejarawan Aceh dan pelaku sejarah perjuangan kemerdekaan, Teuku Alibasjah Talsya. Buku ini diterbitkan oleh Lembaga Sejarah Aceh (LSA) pada tahun 1990 atas bantuan dana dari Menteri Koperasi Republik Indonesia, Bustanil Arifin yang juga salah seorang pelaku pejuang kemerdekaan di Aceh.[**]