Di tengah suasana berlangsungnya perundingan antara delegasi Indonesia dan delegasi Belanda dibawah pengawasan Komisi Tiga Negara PBB. Pesawat Belanda menjatuhkan tabung-tabung itu berisi surat dari Wali Negara Sumatera Timur, Dr Tengku Mansur yang ditujukan kepada Gubernur Militer Aceh, Langkat dan Tanah Karo, Jendral Mayor Tituler Teungku Muhammad Daod Beureu’eh.
Surat itu mengajak Aceh untuk ikut dalam Muktamar Sumatera di Medan yang diikuti oleh suku-suku besar di Sumatera. Isi lengkap surat ajakan itu bisa dibaca dalam buku Sekali Republiken Tetap Republiken yang ditulis oleh Teuku Alibasjah Talsya, juga dalam buku Jihad Akbar di Medan Area yang ditulis Amran Zamzami, serta dalam buku Wajah Aceh dalam Lintasan Sejarah yang ditulis Prof Dr Ibrahim Alfian dan dalam beberapa buku lainya. Bagaimana isi surat itu, berikut kutipannya:
Kehadapan Paduka Yang Mulia
Gubernur Militer Aceh
di Kutaradja.
Perkembangan perdjalanan politik di Indonesia menunjukkan makin-makin jelas, bahwa adalah berfaedah dan baik bagi suku-suku bangsa Sumatera untuk mencapai kerja sama yang lebih rapat dan lebih baik, yaitu suatu kerja sama yang akan dapat terzhahir bukan saja dalam lapangan politik dan ekonomi, tetapi juga dalam beberapa banyak cara jang lain.
Itulah sebabnya maka saya merasa boleh memulai menggerakkan untuk mengundang wakil-wakil segala daerah Sumatera buat turut serta dalam suatu Muktamar-Sumatera, jang akan dilangsungkan di Medan pada 28 Maret ini.
Tujuan conferentie ini, jang lebih kurang 5 hari lamanya, ialah mengadakan perhubungan yang pertama diantara daerah-daerah dan suku-suku bangsa Sumatera yang berbagai-bagai itu dan saya menyatakan penghargaan saya moga-moga perhubungan yang pertama ini berangsur-angsur tumbuh menjadi pertalian yang bertambah-tambah eratnya untuk kebahagiaan bangsa Sumatera dan bangsa Indonesia seluruhnya.
Negara Sumatera Timur akan merasa sebagai suatu kehormatan untuk menerima perutusan Tuan sebagai tamu selama muktamar itu.
Yang diundang ialah: Atjeh, Tapanuli, Nias, Minangkabau, Bengkalis, Indragiri, Jambi, Riau, Bangka, Belitung, Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu.
Terlepas dari segala perbedaan faham politik saya menyatakan penghargaan saya, supaja Aceh juga akan menyuruh suatu perutusan mewakilinya pada muktamar pertama dari suku-suku bangsa Sumatera ini. Pembesar-pembesar di Sabang telah diperintahkan untuk menjambut perutusan Tuan dan mengawaninya ke Medan dengan kapal terbang.
Wali Negara Sumatera Timur
Dr Tengku Mansur.
Pembesar-pembesar di Sabang yang dimaksud dalam surat ini adalah para petinggi Sekutu/NICA yang sudah bercokol di Sabang sejak kekuasaan Jepang dilucuti di sana pada 25 Agustus 1945. Tapi meski sudah menduduki Pulau Weh, Sabang, tentara Sekutu/NICA tidak pernah bisa masuk ke Aceh. Kapal-kapal dan pesawat Belanda selalu diserang dengan meriam oleh pejuang Aceh.[**]





