Pada 13 Juli 1880, Van Der Heijden kembali mengirimkan ekspedisinya secara besar-besaran ke Samalanga untuk menyerang Banteng Kuta Gle di Batee Iliek. Dalam ekspedisi ke Samalanga itu Belanda mengerahkan pasukan dalam jumlah banyak, terdiri dari satu kompi pasukan asli Belanda, 1 kompi inlander (tentara pribumi) dari Batalion 14 dan 1 kompi Ambon dari Batalion 3, serta 1 kompi garnizun dari Batalion campuran.
Mereka juga diperkuat 32 perwira dengan 1.200 tentara marsose. Semua pasukan itu diberangkatkan ke Samalanga. Dalam ekspedisi ini juga turut serta Panglima Tibang, bekas pembesar Sultan Aceh yang menyeleweng dengan Teuku Nyak Leman sebagai juru bahasa dan penunjuk jalan bagi Belanda.
Beberapa kali Belanda melakukan serbuan menaklukkan Kuta Gle Batee Iliek tidak berhasil. Belanda terpaksa memundurkan pasukannya ke Cot Meurak. Di sini sambil mereka istirahat dan menyusun strategi penyerangan kedua ke Kuta Gle, Belanda juga harus menguburkan mayat-mayat serdadu mereka.[]

