Untuk menjamin mereka tidak diserang pejuang Aceh, saat melintasi Kota Banda Aceh menuju Uleelheu, pasukan Jepang menyandera beberapa orang perwira Angkatan Pemuda Indonesia (API) dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Mereka “diculik” dari kantor TKR.

Para perwira API dan TKR yang disandera Jepang sebagai jaminan kemanan tersebut merupakan perwira-perwira pribumi didikan Jepang, antara mereka dengan para komandan pasukan Jepang sudah saling mengenal. Jepang khawatir jika tanpa jaminan para perwira API dan TKR tersebut, tentara Jepang akan kembali diserang pejuang Aceh.

Pasalnya, saat itu insiden penyerangan terhadap Jepang terjadi di hampir semua wilayah di Aceh. di antaranya di Aceh Barat, Krueng Panjoe, Langsa dan Kualasimpang. Bahkan, di Kuala Simpang dan Langsa, tentara Jepang yang telah berangkat ke Medan diperintahkan Sekutu balik ke Aceh untuk mengambil kembali senjata-senjata yang telah mereka serahkan kepada rakyat Aceh. Tapi tak pernah berhasil.

Setelah semua pasuka Jepang dari Seulimuem, Blangbintang dan Lhoknga berkumpul semua di Uleelheu menunggu kapal jemputan, mereka mengumpulkan semua barang dan armada yang tidak bisa diangkut kembali ke Jepang, kemudian membakarnya.

Pembakaran itu sempat memancing pejuang Aceh untuk menyerbu, karena mengira Jepang telah membakar Uleelheu, tapi para perwira API dan TKR yang dijadikan tameng oleh Jepang bisa menenangkan dan mencegah terjadi peperangan, sehingga semua tentara Jepang bisa meningalkan Aceh.

Beberapa truk, speedboat, meriam dan senjata berat milik Jepang yang luput dari pembakaran dan rusak, kemudian diperbaiki oleh para montir di Banda Aceh hingga bisa digunakan kembali.[**]