Untuk memperkecil bertambah banyaknya korban, maka semua orang Jepang bersama tentaranya di seluruh Aceh dihimpun pada dua tempat. Pasukan dari Lhoknga, garnisun Banda Aceh, Seulimeum Sigli, Lammeulo, Bireuen, Takengon dan sekitar wilayah-wilayah tersebut dipusatkan di pangkalan Biang Bintang, Aceh Besar. Sementara dari wilayah pesisir barat dan selatan berhimpun di Meulaboh sedang dari Aceh Utara dan Aceh Timur berkumpul di Langsa dan kemudian berangkat ke Medan.
Di kota Banda Aceh masih ditempatkan sebagian dari pasukan Jepang untuk pengamanan. Tentara Jepang yang dipusatkan di Blang Bintang meninggalkan tempat tersebut pada tanggal 15 Desember 1945 dan berkumpul di Ulee Lheue. Pada waktu mereka berangkat, singgah di Banda Aceh, menawan beberapa orang perwira API/TKR sebagai sandera untuk keselamatan mereka. Beberapa hari kemudian seluruh tentara Jepang meninggalkan Aceh.
Sebelumnya insiden penyerangan terhadap Jepang terjadi di hampir semua wilayah di Aceh. di antaranya di Aceh Barat, Krueng Panjoe, Langsa dan Kualasimpang. Bahkan, di Kuala Simpang dan Langsa, tentara Jepang yang telah berangkat ke Medan diperintahkan Sekutu balik ke Aceh untuk mengambil kembali senjata-senjata yang telah mereka serahkan kepada rakyat Aceh. Tapi tak pernah berhasil.[**]

