Pada 28 Oktober 1945, Angkatan Muda Montasik mengadakan rapat besar bertempat di Perguruan Djadam, dihadiri Residen Aceh Teuku Nyak Arif, penduduk dan para undangan. Pagi-pagi pukul 9 barisan murid sekolah dan penduduk dengan panji-panji merah putih berdiri sepanjang jalan menyambut kedatangan Residen yang datang dengan para kepala kantor dan beberapa orang terkemuka.

Upacara dimulai dengan menaikkan bendera merah putih disertai lagu kebangsaan Indonesia Raya. Rapat yang dipimpin Ali Hasjmy itu menampilkan 5 orang pembicara, yaitu Ishak Amin Ketua Pemuda Republik Indonesia (PRI) Montasik, Said Usman mewakili API, Residen Aceh Teuku Nyak Arif, Said Ahmad Dahlan Ketua Dewan Penerangan PRI Aceh dan Teuku Main Uleebalang Mukim Montasik.

Semua pembicara menganjurkan supaya segenap lapisan masyarakat untuk mengeratkan persatuan dan berjuang untuk membela kemerdekaan. Pada saat jeda diadakan penjualan lencana untuk mengumpulkan dana perjuangan.

Pada hari yang sama PRI Beureunuen mengadakan rapat umum mengabarkan tentang peristiwa kemerdekaan Republik Indonesia kepada masyarakat. Rapat umum tersebut dihadiri para penduduk setempat dan sekitarnya. Dalam acara tersebut dengan resmi dinaikkan bendera merah putih sebagai lambang bahwa Beureunuen sudah berada dalam kekuasaan Republik Indonesia.

Di Bambi, Pidie, juga didirikan PRI. Serentak dengan itu diadakan pawai dan rapat umum untuk meresmikan pengibaran bendera merah putih. Pembicara-pembicara memberikan penerangan panjang-lebar tentang kemerdekaan Indonesia dan akhirnya dicetuskan kebulatan tekad semua yang hadir, bahwa mereka setia dan menyokong Republik Indonesia dengan harta, tenaga, darah dan jiwa.

Kaum ibu Kuala Simpang juga menyelenggarakan rapat umum menggelorakan semangat perjuangan. Segenap hadirin menyatakan bahwa mereka akan turut berjuang mempertahankan Republik Indonesia, di samping kaum lelaki.

PRI Cabang Idi pada hari yang sama juga secara resmi menaikkan bendera merah putih di kota tersebut. Dinyatakan bahwa seluruh kewedanaan itu berada dalam kekuasaan Republik Indonesia, meski tentara Jepang masih belum ditarik dari sana.

Sementara di Banda Aceh pada hari yang sama tampil grup sandiwara Tjahaja Timoer bermain di gedung Atjeh Bioskop Banda Aceh. Mereka menyajikan lakon Hantu Bali. Pada waktu jeda dilakukan penjualan kembang melati kepada penonton untuk mengumpulkan dana perjuangan. Pertunjukan-pertunjukan lanjutan diteruskan di seluruh Aceh dan kota-kota lain, untuk tujuan yang sama.

Masih pada 28 Oktober 1945, rombongan Rehabilitation Allied Prisoniers of War and Internees (RAPWI) mengunjungi Kuala Simpang untuk menyaksikan keadaan orang-orang yang pernah ditawan tentara Jepang selama ia berkuasa. Pembesar-pembesar Jepang di sana memberikan informasi kepada mereka menyangkut hal-hal yang menjadi tugas rombongan tersebut.

RAPWI merupakan suatu organisasi yang didirikan Sekutu, tidak bersifat militer. Tugasnya, dalam hal penyelenggaraan tawanan-tawanan perang dan kaum interniran Sekutu, setelah Jepang menyerah.[]