Belanda kembali gagal untuk masuk ke Aceh pada agresi kedua tersebut. Panglima Besar Angkatan Laut Belanda, Helfrich, Laksamana Muda Belanda Pinke mengakui susah untuk menaklukkan Aceh, meski pasukan Sekutu/NICA sudah membentuk pemerintahan sipil di Sabang sejak 25 Agustus 1945.

Tapi mereka hanya mampu bercokol di Sabang, tidak pernah bisa masuk ke Aceh. Residen Aceh menjadi satu-satunya darah di Indonesia yang tidak mampu dimasuki oleh Sekutu/NICA setelah seluruh kawasan Indonesia lainnya dikuasai Belanda.

Dari pengakuan opsir tinggi Belanda tersebut, pertahanan rakyat Aceh sangat kuat, setelah mampu melucuti senjata Jepang, sehingga pejuang Aceh memiliki kelengkapan senjata dan peralatan tempur, sementara di luar Aceh senjata Jepang dilucuti oleh Sekutu/NICA.

Baik Panglima Besar Angkatan Laut Belanda, Helfrich, dan Laksamana Muda Belanda Pinke mengakui gempuran Belanda berhari-hari ke daratan Aceh gagal, bahkan dua pesawat tempur Belanda ditembak jatuh di kawasan utara Kota Banda Aceh. Belanda tidak menemukan meriam-meriam besar pejuang Aceh yang menembak kapal perang dan pesawat tempur Belanda.